Struktur Liturgi Masa Prapaskah


Struktur Liturgi Masa Prapaskah

Untuk memahami berbagai kekhususan liturgi masa Prapaskah, kita harus ingat bahwa kekhususan tersebut mengungkapkan dan menyampaikan kepada kita makna spiritual Prapaskah dan berkaitan dengan gagasan utama Prapaskah, yaitu fungsinya dalam kehidupan liturgi Gereja. Gagasan tersebut adalah pertobatan. Ibadah Prapaskah dengan demikian merupakan sekolah pertobatan. Ibadah ini mengajarkan kita apa itu pertobatan dan bagaimana memperoleh semangat pertobatan.

Ditulis oleh Proto Presbiter Allexander Schmemann | 17 MARET 2005

Untuk memahami berbagai kekhususan liturgi masa Prapaskah, kita harus ingat bahwa kekhususan tersebut mengungkapkan dan menyampaikan kepada kita makna spiritual Prapaskah dan berkaitan dengan gagasan utama Prapaskah, yaitu fungsinya dalam kehidupan liturgi Gereja. Gagasan tersebut adalah pertobatan. Namun, dalam ajaran Gereja Orthodoks, pertobatan bagi imam berarti jauh lebih dari sekadar daftar dosa dan pelanggaran. Pengakuan dosa dan pengampunan hanyalah hasil, buah, "puncak" dari pertobatan sejati. Dan, sebelum hasil ini dapat dicapai, menjadi benar-benar sah dan bermakna, seseorang harus melakukan upaya spiritual, melalui masa persiapan dan penyucian yang panjang. Pertobatan, dalam pengertian Orthodoks, berarti evaluasi ulang yang mendalam dan radikal terhadap seluruh hidup kita, terhadap semua gagasan, penilaian, kekhawatiran, hubungan timbal balik, dan lain-lain. Ini tidak hanya berlaku untuk beberapa "tindakan buruk," tetapi untuk seluruh kehidupan, dan merupakan penilaian Kristen yang diberikan padanya, pada asumsi-asumsi dasarnya. Pada setiap saat dalam hidup kita, tetapi terutama selama Masa Prapaskah, Gereja mengajak kita untuk memusatkan perhatian kita pada nilai-nilai dan tujuan-tujuan utama, untuk mengukur diri kita sendiri dengan kriteria ajaran Kristen, untuk merenungkan keberadaan kita dalam hubungannya dengan Tuhan. Inilah pertobatan dan oleh karena itu, di atas segalanya, terdiri dari perolehan Roh pertobatan, yaitu, keadaan pikiran khusus, sifat khusus dari hati nurani dan visi spiritual kita.

Ibadah Prapaskah adalah sekolah pertobatan. Ibadah ini mengajarkan kita apa itu pertobatan dan bagaimana memperoleh semangat pertobatan. Ibadah ini mempersiapkan kita dan menuntun kita kepada regenerasi spiritual, yang tanpanya "pengampunan" tetap tidak bermakna. Singkatnya, ibadah ini adalah pengajaran tentang pertobatan dan jalan pertobatan. Dan, karena tidak mungkin ada kehidupan Kristen sejati tanpa pertobatan, tanpa "penilaian ulang" hidup yang terus-menerus ini, ibadah Prapaskah merupakan bagian penting dari tradisi liturgi Gereja. Pengabaian terhadapnya, pengurangannya menjadi beberapa kewajiban dan kebiasaan formal semata, penyimpangan aturan-aturan dasarnya merupakan salah satu kekurangan utama kehidupan Gereja kita saat ini. Tujuan artikel ini adalah untuk menguraikan setidaknya struktur-struktur terpenting dari ibadah Prapaskah, dan dengan demikian menolong umat Kristen Orthodoks untuk memulihkan gagasan Prapaskah yang lebih Orthodoks.

(1) Hari Minggu Persiapan

Tiga minggu sebelum masa Prapaskah dimulai, kita memasuki masa persiapan. Merupakan ciri khas tradisi ibadah kita bahwa setiap peristiwa liturgi besar – Natal, Paskah, Prapaskah, dll., diumumkan dan dipersiapkan jauh sebelumnya. Mengetahui kurangnya konsentrasi kita, “keduniawian” kehidupan kita, Gereja mengingatkan kita akan keseriusan peristiwa yang akan datang, mengajak kita untuk merenungkan berbagai “dimensinya”; dengan demikian, sebelum kita dapat mempraktikkan Prapaskah, kita diberikan theologi dasarnya.

Persiapan Pra-Prapaskah meliputi empat hari Minggu berturut-turut sebelum Prapaskah.

1. Hari Minggu Si Pemungut Cukai dan Orang Farisi

Pada malam hari ini, yaitu pada Ibadah Kawal Malam Sabtu, buku liturgi masa Prapaskah – Triodion – pertama kali digunakan dan teks-teks darinya ditambahkan ke materi liturgi biasa dari ibadah Kebangkitan. Teks-teks tersebut mengembangkan tema utama pertama dari masa ini: yaitu kerendahan hati; Bacaan Injil hari ini (Luk. 18, 10-14) mengajarkan bahwa kerendahan hati adalah syarat pertobatan. Tidak seorang pun dapat memperoleh roh pertobatan tanpa menolak sikap orang Farisi. Inilah seorang yang selalu merasa puas dengan dirinya sendiri dan berpikir bahwa ia telah memenuhi semua persyaratan agama. Namun, ia telah mengurangi makna agama menjadi aturan-aturan formal semata dan mengukurnya berdasarkan jumlah sumbangan keuangannya ke bait suci. Baginya, agama adalah sumber kesombongan dan kepuasan diri. Si Pemungut Cukai itu rendah hati dan kerendahan hati membenarkannya di hadapan Allah.

(2) Minggu Anak yang Hilang

Bacaan Injil hari ini (Luk. 15, 11-32) memberikan tema kedua Masa Prapaskah: yaitu kembali kepada Allah. Tidak cukup hanya mengakui dosa dan mengaku dosa. Pertobatan tetap tidak berbuah tanpa keinginan dan keputusan untuk mengubah hidup, untuk kembali kepada Allah. Pertobatan sejati bersumber dari keindahan dan kemurnian rohani yang telah hilang dari manusia. “…Aku akan kembali kepada Bapa yang penuh belas kasihan sambil menangis, terimalah aku sebagai salah seorang hamba-Mu.” Pada Matins hari ini, selain mazmur Polyeleos yang biasa, “Pujilah nama Tuhan” (Mzm. 135 (Septuaginta/136), Mazmur 137 (Septuaginta)/138,  ditambahkan, “Di tepi sungai Babel, di sana kami duduk, ya, kami menangis, ketika kami mengingat Sion… Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah tangan kananku kehilangan kemampuannya…” Orang Kristen mengingat dan mengetahui apa yang telah hilang darinya: persekutuan dengan Allah, kedamaian dan sukacita Kerajaan-Nya. Ia dibaptis, dimasukkan ke dalam Tubuh Kristus. Oleh karena itu, pertobatan adalah pembaharuan baptisan, suatu gerakan kasih, yang membawanya kembali kepada Allah.

(3) Minggu Penghakiman Terakhir (Minggu Selamat Tinggal Daging)

Pada hari Sabtu, sebelum Minggu ini (Sabtu Selamat Tinggal Makan Daging), Typikon menetapkan peringatan universal bagi semua anggota Gereja yang telah meninggal. Di dalam Gereja kita semua saling bergantung, saling memiliki, dipersatukan oleh kasih Kristus. (Oleh karena itu, tidak ada ibadah di Gereja yang dapat bersifat “pribadi”.) Pertobatan kita tidak akan lengkap tanpa tindakan kasih ini terhadap semua orang yang telah mendahului kita dalam kematian, karena apakah itu pertobatan jika bukan juga menjadi pemulihan semangat kasih, yang merupakan semangat Gereja. Secara liturgis, peringatan ini mencakup Sembahyang Senja /Vespers Jumat, Sembahyang Singsing Fajar/Matins, dan Liturgi Ilahi pada hari Sabtu.

Injil Minggu (Mat. 25, 31-46) mengingatkan kita pada tema ketiga pertobatan: persiapan untuk penghakiman terakhir. Seorang Kristen hidup di bawah penghakiman Kristus. Ia akan menghakimi kita berdasarkan seberapa serius kita menerima kehadiran-Nya di dunia, identifikasi-Nya dengan setiap manusia, karunia kasih-Nya. “Aku di penjara, aku telanjang…” Semua tindakan, sikap, penilaian, dan terutama hubungan kita dengan orang lain harus merujuk kepada Kristus, dan menyebut diri kita “Kristen” berarti kita menerima hidup sebagai pelayanan dan pengabdian. Perumpamaan Penghakiman Terakhir memberi kita “kerangka acuan” untuk evaluasi diri kita.

Pada pekan setelah hari Minggu ini, puasa terbatas dianjurkan. Kita harus mempersiapkan dan melatih diri untuk upaya besar masa Prapaskah. Hari Rabu dan Jumat adalah hari-hari non-liturgi dengan ibadah Prapaskah (bdk. di bawah). Pada hari Sabtu pekan ini (Sabtu Selamat Tinggal Keju), Gereja memperingati semua orang baik laki-laki maupun wanita yang “diterangi melalui puasa”, yaitu para Pertapa Suci atau Para Pelaku puasa dan pantang. Mereka adalah teladan yang harus kita ikuti, penuntun kita dalam “seni” puasa dan pertobatan yang sulit.

(4) Minggu Pengampunan (Selamat Tinggal Keju)

Ini adalah hari terakhir sebelum Masa Prapaskah. Liturginya mengembangkan tiga tema:

(a) “pengusiran Adam dari Firdaus Yang Penuh Berkat.” Manusia diciptakan untuk firdaus, yaitu, untuk persekutuan dengan Allah, untuk hidup bersama-Nya. Ia telah kehilangan kehidupan ini dan keberadaannya di bumi adalah pengasingan. Kristus telah membuka pintu Firdaus bagi setiap orang dan Gereja membimbing kita ke tanah air surgawi kita.

(b) Puasa kita tidak boleh munafik, bukan untuk pamer. Kita “bukan untuk berpuasa di hadapan manusia, tetapi untuk Bapa kita yang di tempat tersembunyi” (bdk. Injil Minggu, Mat. 6, 14-21), dan

(c) Syaratnya adalah kita saling mengampuni seperti Allah telah mengampuni kita – “Jika kamu mengampuni kesalahan orang lain, Bapa Surgawi kamu juga akan mengampuni kamu.”

Pada malam hari itu, saat Vespers, Masa Prapaskah diresmikan oleh Prokimenon Agung: “Jangan palingkan wajah-Mu dari hamba-Mu, karena aku dalam kesusahan; dengarkanlah aku dengan segera. Perhatikanlah jiwaku dan selamatkanlah aku.” Setelah ibadah, ritus pengampunan berlangsung maka Gereja memulai ziarahnya menuju hari Paskah yang mulia.

(1) Kanon Santo Andreas dari Kreta

Kanon Agung Santo Andreas dari Kreta. Pada empat hari pertama Prapaskah – Senin hingga Kamis – Typikon menetapkan bacaan pada Ibadah Purna Bujana Agung/ Great Compline (yaitu, setelah Vespers) dari Kanon Agung Santo Andreas dari Kreta, yang dibagi menjadi empat bagian. Kanon ini sepenuhnya dikhususkan untuk pertobatan dan dapat dikatakan sebagai “peresmian Prapaskah.” Kanon ini diulang dalam bentuk lengkapnya pada Matins pada hari Kamis minggu kelima Prapaskah.

(2) Hari-hari Masa Prapaskah – Siklus Harian

Masa Prapaskah terdiri dari enam minggu atau empat puluh hari. Dimulai pada hari Senin setelah Minggu Selamat Tinggal Keju dan berakhir pada Jumat malam sebelum Minggu Palem. Sabtu kebangkitan Lazarus, Minggu Palem, dan Pekan Suci membentuk siklus liturgi khusus yang tidak dianalisis dalam artikel ini. Hari-hari Prapaskah – Senin hingga Jumat – memiliki struktur liturgi yang sangat berbeda dari hari Sabtu dan Minggu. Kita akan membahas kedua hari ini dalam paragraf khusus.

Siklus hari-hari Prapaskah, meskipun terdiri dari ibadah yang sama, seperti yang ditetapkan untuk sepanjang tahun (Vespers, Compline, Midnight, Matins, Hours), namun memiliki beberapa kekhususan penting:

(a) Siklus ini memiliki buku liturgi sendiri yaitu Buku Triodion. Sepanjang tahun, unsur-unsur yang berubah dari ibadah harian – troparion, stichera, kanon – diambil dari Octoechos (buku mingguan) dan Menaion (buku bulanan, yang menyediakan ibadah untuk peringatan Orang Kudus pada hari itu). Aturan dasar masa Prapaskah adalah bahwa Octoechos tidak digunakan pada hari biasa tetapi digantikan oleh Triodion, yang menyediakan setiap hari dengan,

— Saat Vespers – serangkaian stichera (3 Stichera untuk “ Ya Tuhan ku berseru” dan 3 stichera untuk “Aposticha”) dan 2 bacaan atau “parimias” dari Perjanjian Lama.

— Saat Matins – 2 kelompok “kathismata” (“Sedalny,” kidung pendek yang dinyanyikan setelah pembacaan Mazmur), sebuah kanon tiga ode (atau “Triodion” yang memberi nama pada seluruh buku) dan 3 stichera pada “Pujian,” yaitu, dinyanyikan di akhir mazmur pagi reguler 148, 149, 150 – pada Sembahyang Jam Keenam – sebuah “parimia” dari Kitab Yesaya.

Peringatan Santo hari itu (“Menaion”) tidak dihilangkan, tetapi digabungkan dengan teks-teks Triodion. Yang terakhir sebagian besar, jika tidak seluruhnya, bersifat pertobatan. Terutama stichera yang dalam dan indah adalah stichira “idiornela” (“Samoglasni”) setiap hari (1 stikhera pada Vespers dan 1 stichera pada Matins). Dan merupakan fakta yang menyedihkan bahwa hanya sedikit dari Triodion yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris bahkan belum ada dalam bahasa Indonesia..

(b) Penggunaan Mazmur digandakan. Biasanya Kitab Mazmur, yang dibagi menjadi 20 kathisma, dibaca sekali setiap minggu: (1 kathisma pada Ibadah Sore, 2 kathisma pada Ibadah Pagi). Selama Masa Prapaskah, kitab ini dibaca dua kali (1 kathisma pada Ibadah Sore, 3 kathisma pada Ibadah Pagi, 1 kathisma pada Jam ke-3, 6 dan 9). Hal ini tentu saja dilakukan terutama di biara-biara, namun penting untuk mengetahui bahwa Gereja menganggap mazmur sebagai "makanan rohani" yang penting untuk masa Prapaskah.

(c) Tata cara Prapaskah menekankan sujud. Sujud diwajibkan di akhir setiap ibadah dengan doa Prapaskah Santo Ephraim dari Syria, "Ya Tuhan dan Penguasa hidupku," dan juga setelah setiap troparion Prapaskah khusus pada Ibadah Sore. Sujud mengungkapkan semangat pertobatan sebagai "menghancurkan" kesombongan dan kepuasan diri kita. Sujud juga membuat tubuh kita ikut serta dalam upaya doa.

(d) Semangat Prapaskah juga diungkapkan dalam musik liturgi. “Nada” atau melodi khusus Prapaskah digunakan untuk tanggapan pada litani dan “Haleluya” yang menggantikan nyanyian khidmat “Allah itulah Tuhan dan telah menyatakan Diri-Nya kepada kita” pada Ibadah Matins.

(e) Ciri khas ibadah Prapaskah adalah penggunaan Perjanjian Lama, yang biasanya tidak ada dalam siklus harian. Tiga kitab dibaca setiap hari selama Prapaskah: Kejadian dengan Perumpamaan pada Ibadah Vespers. Yesaya pada Jam Keenam. Kejadian menceritakan kisah Penciptaan, Kejatuhan, dan permulaan sejarah keselamatan. Perumpamaan adalah kitab Kebijaksanaan, yang menuntun kita kepada Allah dan kepada perintah-perintah-Nya. Yesaya adalah nabi penebusan, keselamatan, dan Kerajaan Mesianik.

(f) Pakaian liturgi yang digunakan pada hari hari Prapaskah berwarna gelap, secara teoritis warna ungu.

Tata cara ibadah Prapaskah pada hari hari biasa dapat ditemukan dalam Triodion (“Senin minggu pertama Prapaskah”). Yang sangat penting adalah peraturan mengenai nyanyian Kanon. Masa Prapaskah adalah satu-satunya masa dalam tahun liturgi yang masih mempertahankan penggunaan sembilan Ode Biblikal, yang membentuk kerangka asli Kanon tersebut.

(3) Hari-hari Non-Liturgi

Liturgi Benda-Benda Anugerah yang Telah Dikuduskan sebelumnya (Pra Konsekrasi)

Pada hari-hari biasa masa Prapaskah (Senin sampai Jumat), perayaan Liturgi Ilahi dilarang keras. Hari-hari tersebut adalah hari-hari non-liturgi, dengan satu pengecualian yang mungkin – Hari Raya Kabar Sukacita (maka Liturgi Santo Yohanes Krisostomos ditetapkan setelah Vespers). Alasan aturan ini adalah karena Ekaristi pada hakikatnya merupakan perayaan meriah, peringatan sukacita Kebangkitan Kristus dan kehadiran-Nya di antara murid-murid-Nya. (Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini, lihat catatan saya “Ekaristi dan Komuni” dalam St. Vladimir’s Quarterly, Vol. 1, No. 2, April 1957, hlm. 31-33.) Namun, dua kali seminggu, pada hari Rabu dan Jumat, Gereja menetapkan perayaan setelah Vespers, yaitu pada malam Liturgi Pra Konsekrasi (lihat tata cara ibadah ini dalam I. Hapgood, The Service Book, hlm. 127-146). Perayaan ini terdiri dari Vespers Agung yang khidmat dan komuni dengan Benda-Benda Anugerah yang Telah Dikuduskan pada hari Minggu sebelumnya. Hari-hari ini merupakan hari-hari puasa yang ketat (secara teoritis: pantang sepenuhnya) dan “dimahkotai” dengan mengambil bagian dalam Roti Kehidupan, pemenuhan tertinggi dari semua upaya kita.

Kita harus mengakui pengabaian tragis terhadap aturan-aturan ini di banyak paroki Amerika. Perayaan yang disebut "liturgi requiem" pada hari-hari non-liturgi merupakan pelanggaran mencolok terhadap tradisi universal Orthodoksi dan tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang theologis maupun pastoral. Hal itu merupakan sisa-sisa "uniatisme" dalam Gereja kita dan bertentangan dengan doktrin Orthodoks tentang peringatan orang mati dan doktrin Orthodoks tentang Ekaristi serta fungsinya dalam Gereja. Segala upaya harus dilakukan untuk memulihkan prinsip-prinsip liturgi sejati masa Prapaskah.

(4) Hari Sabtu Masa Prapaskah

Hari Sabtu di Masa Prapaskah, kecuali hari Sabtu pertama – yang didedikasikan untuk mengenang Martir Suci Theodore Tyron, dan hari Sabtu kelima – hari Sabtu Akathistos, adalah hari-hari peringatan bagi mereka yang telah meninggal. Dan, alih-alih memperbanyak “liturgi requiem pribadi” pada hari-hari ketika hal itu dilarang, akan lebih baik untuk memulihkan praktik peringatan universal mingguan bagi semua umat Kristen Orthodoks yang telah meninggal dunia, integrasi mereka dalam Ekaristi, yang selalu dipersembahkan “atas nama semua dan untuk semua.”

Hari Sabtu Akathistos adalah peringatan tahunan pembebasan Konstantinopel pada tahun 620. “Acathist,” sebuah kidung indah untuk Bunda Maria, dinyanyikan pada Matins.

(5) Hari Minggu Masa Prapaskah

Setiap hari Minggu di Masa Prapaskah, meskipun tetap mempertahankan karakternya sebagai perayaan mingguan Kebangkitan, memiliki tema khusus, Triodion digabungkan dengan Octoechos.

Minggu Pertama — “Kemenangan Ortodoksi” — memperingati kemenangan Gereja atas bidat besar terakhir – Ikonoklasme (tahun 842).

Minggu Kedua — didedikasikan untuk mengenang Santo Gregorius Palamas, seorang theolog Bizantium yang hebat, yang dikanonisasi pada tahun 1366.

Minggu Ketiga — “Penghormatan Salib Suci” – Pada Ibadah Pagi, Salib dibawa dalam prosesi khidmat dari tempat kudus dan diletakkan di tengah Gereja di mana ia akan tetap berada selama seminggu penuh. Upacara ini mengumumkan mendekatnya Pekan Suci dan peringatan penderitaan Kristus. Di akhir setiap ibadah diadakan penghormatan khusus terhadap Salib.

Minggu Keempat — Santo Yohanes Klimakus (Tangga Rohani), salah satu pertapa terbesar, yang dalam “Tangga Rohani”-nya menjelaskan prinsip-prinsip dasar spiritualitas Kristen.

Minggu Kelima — Santa Maria dari Mesir, teladan pertobatan yang paling menakjubkan.

Pada hari Sabtu dan Minggu – hari-hari perayaan Ekaristi – jubah gelap diganti dengan jubah terang, melodi Prapaskah tidak digunakan, dan doa Santo Ephraim dengan sujud dihilangkan. Tata cara ibadah tidak seperti Prapaskah, namun puasa tetap menjadi aturan dan tidak boleh dilanggar (lihat artikel saya “Puasa dan Liturgi,” dalam St. Vladimir’s Quarterly, Vol. III, No. 1, Musim Dingin 1959). Setiap Minggu malam, Vespers Agung dengan Prokimenon Agung khusus diwajibkan.

Sebagai penutup uraian singkat tentang struktur liturgi Prapaskah ini, izinkan saya menekankan sekali lagi bahwa ibadah Prapaskah merupakan salah satu unsur terdalam, terindah, dan terpenting dari tradisi liturgi Orthodoks kita. Pemulihannya dalam kehidupan Gereja, pemahamannya oleh umat Kristen Orthodoks, merupakan salah satu tugas mendesak di zaman kita.

https://www.pravmir.com/the-liturgical-structure-of-lent/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGGEREJAAN IBU DAN ANAK SETELAH 40 HARI

Tradisi Koliva dalam Kekristenan Ortodoks

MENGAPA ORANG YANG MENINGGAL DIPERINGAT PADA HARI SABTU?