Jalan Gereja Orthodoks Rusia di Luar Negeri. Pengamatan dan pemikiran seorang imam tua.

Jalan Gereja Orthodoks Rusia di Luar Negeri.

Pengamatan dan pemikiran seorang imam tua

 Archpriest Roman Lukianov

 Sehubungan dengan kekacauan baru-baru ini di dalam Gereja Orthodoks Rusia di Luar Negeri, saya pikir akan bermanfaat untuk berbagi pengamatan dan refleksi atas peristiwa-peristiwa yang ada. Baru-baru ini banyak pembicaraan tentang jalan yang ditempuh oleh ROCA. Sekarang menjadi jelas bahwa jalan «lurus» yang disebut sebagian orang, pada akhirnya mengarah pada perpecahan di dalam ROCA. Perpecahan ini telah matang selama bertahun-tahun. Untuk memahami apa yang sedang terjadi, pertama-tama kita harus melihat pada Petunjuk Jalan yang sebenarnya telah menentukan arah ROCA sepanjang sejarahnya.

Petunjuk Jalan Pertama adalah Ukaz (Dekrit) No. 362 dari Patriarkh Tikhon, tertanggal 20 November 1920, paragraf 2: «Jika suatu keuskupan, sebagai akibat dari perpindahan garis depan, atau perubahan batas negara, mendapati dirinya terputus komunikasinya dengan otoritas gereja tertinggi, atau bahwa otoritas gereja tertinggi itu sendiri, yang dipimpin oleh Patriarkh Suci, karena suatu alasan menghentikan kegiatannya, uskup diosesan harus segera menghubungi para uskup dari keuskupan yang berdekatan untuk mengatur tingkat administrasi gereja yang lebih tinggi untuk beberapa keuskupan yang berada dalam situasi yang sama (dalam bentuk pemerintahan gereja sementara atau distrik metropolitan, atau dengan cara lain)».

Ukaz ini dirumuskan pada saat terjadinya Perang Saudara di Rusia, yang akibatnya adalah kepergian sejumlah besar umat awam (diperkirakan lebih dari satu juta), dan sejumlah besar imam dan uskup ke luar negeri.

Petunjuk Jalan Kedua pada jalur ROCA adalah Sobor (Dewan) Uskup di Luar Negeri yang awal, dipimpin oleh Metropolitan Anthony (Khrapovitsky): Sobor Pertama di Konstantinopel pada tahun 1920, yang dihadiri oleh 34 uskup secara langsung atau tertulis; Sobor Pertama perwakilan seluruh ROCA, diadakan di kota Sremskii Karlovtsi di Serbia pada tahun 1921; dan Sobor Uskup di Luar Negeri pada tanggal 13 September 1922, yang membentuk Sinode Sementara Uskup, berdasarkan Ukaz No. 362 Patriarkh Tikhon yang dikutip di atas.  Pada Sobor tersebut, yang mengarah pada pembentukan resmi Gereja Orthodoks Rusia di Luar Negeri, diwakili oleh paroki-paroki di Eropa, Balkan, Timur Dekat dan Timur Jauh, Amerika Utara dan Selatan, termasuk Distrik Metropolitan yang akan segera dipisahkan: satu dikenal sebagai Metropolia Paris, yang saat ini berada di bawah Patriarkh Konstantinopel, dan yang lainnya dikenal saat ini sebagai Gereja Orthodoks di Amerika di AS.

Petunjuk Jalan Ketiga adalah Resolusi Sobor Uskup ROCA, pada bulan September 1927, yang menolak Deklarasi Metropolitan Sergius dan menetapkan aturan berikut: «Bagian Gereja Seluruh Rusia yang berada di luar negeri harus menghentikan semua hubungan administratif dengan administrasi gereja di Moscow…sampai hubungan normal dengan Rusia dipulihkan dan sampai Gereja kita terbebas dari penganiayaan oleh otoritas Soviet yang tidak bertuhan…Bagian Gereja Rusia yang berada di luar negeri menganggap dirinya sebagai cabang Gereja Rusia Raya yang tidak terpisahkan dan bersatu secara spiritual. Ia tidak memisahkan diri dari Gereja Ibu-nya dan tidak menganggap dirinya sebagai Gereja Autokephalus.»  Resolusi ini memperjelas bahwa para Hierarki emigran, meskipun menolak apa yang kemudian dikenal sebagai «Sergianisme», tidak memisahkan bagian gereja yang berada di luar negeri dari Gereja yang berada di tanah air, dengan demikian menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang tidak mampu menahan teror. Pada saat itu berkembang konsep tiga bagian Gereja Rusia: «Gereja yang diperbudak», yaitu, Patriarkhat Moscow; «Gereja Katakombe», yaitu, Gereja rahasia, teraniaya, bawah tanah yang berisi para pengaku iman di dalam batas wilayah Uni Soviet; dan «Gereja Orthodoks Rusia di Luar Negeri», yang merupakan suara bebas dari seluruh Gereja Rusia.

Petunjuk Arah Keempat adalah penerapan Polozheniye Sementara (Hukum Dasar) ROCA oleh Sobor (Sidang Dewan) Umum Uskup pada tanggal 22-24 September 1936. Paragraf pertamanya menyatakan: «Gereja Orthodoks Rusia di Luar Negeri, yang terdiri dari keuskupan, misi spiritual, dan paroki di luar Rusia, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Gereja Orthodoks Rusia, yang untuk sementara waktu berada di bawah administrasi otonom». Sidang Dewan (Sobor) Umum ini, pada dasarnya, menetapkan kepemimpinan administratif ROCA yang tertib selama seluruh periode keberadaannya yang independen.

Penunjuk Jalan Kelima didefinisikan oleh Jawaban Metropolitan Anastassy yang Terberkati pada tahun 1945, dan Dewan Uskup di Munich pada tahun 1946, sebagai tanggapan atas seruan Patriarkh Moscow Aleksey I, yang menyerukan penyatuan kembali setelah Perang Dunia Kedua. Selama masa perburuan yang mengerikan oleh agen-agen Soviet terhadap orang-orang terlantar dan orang-orang yang tidak kembali ke negara asal di seluruh Eropa Barat, Metropolitan Anastassy, ​​yang menegaskan kembali perlunya keberadaan ROCA yang independen, menulis: «Para uskup, imam, dan kaum awam, yang tunduk pada yurisdiksi Sinode Uskup di Luar Negeri, tidak pernah memutuskan kesatuan kanonik, doa, atau spiritual dengan Gereja Ibu mereka.»  Dewan Uskup dalam pesannya menulis kepada Patriarkh Moscow: «Kami percaya bahwa... di atas tulang-tulang para martir, Rusia yang baru dan bebas akan bangkit, kuat dalam kebenaran Orthodoks dan kasih persaudaraan... kemudian semua anak-anaknya yang tersebar, tanpa tekanan atau paksaan apa pun, tetapi dengan bebas dan gembira, akan berusaha untuk kembali dari mana-mana ke dalam pelukan keibuannya. Menyadari ikatan spiritual kami yang tak terputus dengan tanah air kami, kami dengan tulus berdoa kepada Tuhan agar Dia segera menyembuhkan luka-luka yang ditimpakan ke tanah air kita oleh perang yang berat, dengan kemenangan aatas perang, dan memberkatinya dengan kedamaian dan kesejahteraan.» Pesan ini ditandatangani oleh Metropolitan Anastassy, ​​tiga uskup agung, dan sepuluh uskup.

Petunjuk Jalan Keenam, dan mungkin yang paling penting di zaman kita, adalah Piagam Bersama di Amerika Serikat dari Gereja kita di Luar Negeri, yang ditandatangani oleh para Hierarki yang paling terkemuka, Metropolitan Anastassy, ​​Uskup Agung Vitaly (Maximenko), Uskup Agung Tikhon, Uskup Agung Hieronim, Uskup Seraphim, dan Uskup Nikon, dan didaftarkan di Negara Bagian New York pada tanggal 30 April 1952. Piagam tersebut menyatakan:

«II. Tujuan dan maksud utama dari Piagam Bersama ini adalah untuk menyediakan pengelolaan keuskupan, misi, biara, gereja, dan paroki Gereja Orthodoks Rusia, yang berlokasi di Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara lain yang berada di luar Uni Soviet dan negara-negara satelit Uni Soviet, tetapi termasuk keuskupan, misi, biara, dan gereja yang mengakui Piagam Bersama ini sebagai otoritas gerejawi tertinggi atas mereka.

«III. Pigam Bersama dalam fungsi dan operasinya, dan semua wali amanat dan pejabatnya, tidak boleh menjalin hubungan apa pun dengan otoritas dan organisasi gerejawi Rusia di dalam batas wilayah Uni Soviet dan negara-negara satelit Uni Soviet, selama negara-negara tersebut, atau salah satu dari negara-negara tersebut, tunduk pada pemerintahan Komunis.»

Selanjutnya, paragraf berikutnya dari Piagam tersebut merujuk pada Ukaz #362 dari Patriarkh Tikhon tertanggal 20 November 1920, dan penerimaannya oleh Dewan Uskup pada tanggal 24 November 1936. Hal ini menunjukkan bahwa Metropolitan Anastassy dan semua Uskup, penandatangan Piagam, sebagaimana, pada masa mereka, Metropolitan Anthony dan para Uskup pendiri Gereja Rusia di Luar Negeri, menerima fakta bahwa keabsahan Ukaz Patriarkh Tikhon, yang pada dasarnya, adalah Berkat Patriarkhatnya, terbatas dalam waktu. Pada gilirannya, mereka juga memberkati keberadaan independen Gereja Rusia di Luar Negeri yang terbatas waktu hingga jatuhnya rezim Komunis.

Petunjuk Jalan Ketujuh adalah lagi-lagi Polozheniye (Hukum Dasar) Gereja Rusia di Luar Negeri, yang direvisi dan disetujui oleh Dewan Uskup, yang dipimpin oleh Metropolitan Anastassy, ​​pada tahun 1956. Paragraf #1-nya menyatakan: «Gereja Orthodoks Rusia di Luar Negeri adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Gereja Orthodoks Lokal (Pomestnoy), yang untuk sementara waktu memerintah sendiri hingga jatuhnya otoritas yang tidak bertuhan di Rusia, sesuai dengan Keputusan Patriarhk Suci Tikhon dan Dewan Gereja Tertinggi Gereja di Rusia tanggal 7/20 November 1920, #362.» Paragraf yang sama diulang kata demi kata dalam Polozheniye, yang ditinjau dan disetujui kembali pada tahun 1964.

Pada tahun 1956, Jawaban Metropolitan Anastassy dicetak ulang oleh Biara Tritunggal Mahakudus. Tema yang sama disuarakan oleh Uskup Agung Vitaly (Maximenko) yang dikenang dengan penuh berkat, dalam karyanya «Motifs of My Life». Uskup Agung Andrew (Romo Adrian) biasa menyebut Gereja di Luar Negeri sebagai Keuskupan yang memerintah sendiri untuk sementara waktu dari Gereja Rusia. Uskup Agung Yohanes dari Shanghai dan San Francisco menulis: «Gereja Rusia di Luar Negeri tidak memisahkan diri secara rohani dari Gereja Ibu yang menderita. Gereja mempersembahkan doa untuknya, menjaga kekayaan rohani dan kekayaan materinya dan pada waktunya akan bersatu kembali dengannya, ketika alasan-alasan yang menyebabkan pemisahan itu telah lenyap.» Pernyataan serupa dibuat oleh banyak imam agung, imam, dan penulis lain di percetakan/publikasi gereja. Dari merekalah generasi kita, yang datang ke Gereja setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua pada tahun 1945, telah memperoleh pemahaman tentang keberadaan sementara Gereja Rusia di Luar Negeri yang independen hingga pembebasan Rusia dari kuk Komunis.  Seruan Metropolitan Anastassy dan Philaret yang dikenang dengan penuh berkat untuk menjauhkan diri bahkan dari kontak konvensional dengan perwakilan Patriarkhat Moscow berkaitan dengan periode tahun 1960-an dan 1970-an, ketika pemerintah Soviet mulai menggunakan Gereja untuk tujuannya sendiri di seluruh dunia Barat. Dan Metropolitan Vitaly sepenuhnya benar ketika ia mengatakan bahwa kita tidak dapat menyatakan bahwa Gereja di Rusia tidak memiliki Rahmat, tetapi tindakan-tindakan tertentu dari para imamnya, yang dilakukan atas perintah otoritas yang tidak bertuhan untuk merugikan Gereja, tentu saja itu tidak memiliki rahmat.

Pada tahun 1991 rezim Komunis runtuh dan negara Soviet yang totaliter tidak ada lagi. Sisa-sisa mentalitas Soviet dan bahkan pemerintahan Negara masih ada, tetapi negara dan Gereja menganggap diri mereka bebas dan merasa bebas, dan tidak ada lagi ideologi partai yang mengganggu komunikasi Gereja. Oleh karena itu, dengan jatuhnya pemerintahan Soviet dan berakhirnya teror pada tahun 1991, berakhir pula rentang waktu yang diberkati oleh Patriarkh Suci Tikhon dan para Imam Agung pendiri Gereja Orthodoks Rusia di Luar Negeri untuk keberadaan ROCA sebagai entitas yang terpisah.

Jalan yang ditandai oleh Petunjuk Jalan yang disebutkan di atas mulai diubah secara halus dengan pentahbisan rahasia (dan dipertanyakan secara kanonik) Uskup Varnava (Barnabas) sekitar tahun 1984. Sebuah ideologi baru mulai terlihat jelas, secara halus tetapi sangat russofobia. Dengan kedok memulihkan jabatan imam agung Gereja Katakombe, badan-badan gereja baru mulai dibentuk di Rusia, yang berada di bawah Gereja di Luar Negeri. Gereja Katakombe lama, yang sangat dihormati sebagai Gereja para pengaku iman sejati, segera dilupakan. Ideologi baru tersebut mempromosikan gagasan bahwa Gereja Rusia di Luar Negeri adalah satu-satunya Gereja yang sejati, dan pembawa pemulihan Gereja di Rusia. Hal ini menyebabkan keterasingan dan konfrontasi yang tidak perlu antara Gereja Rusia di Luar Negeri dan Gereja Ibu, dan kemudian menyebabkan serangkaian sikap dan tindakan aneh dari pihak beberapa uskup ROCA, pertama di Rusia, dan baru-baru ini di luar negeri.  Kini setelah para uskup beserta pengikut mereka keluar dari Gereja di Luar Negeri dan mendirikan organisasi gereja mereka sendiri, Gereja di Luar Negeri memperoleh kembali kebebasan berpendapat dan kesempatan untuk kembali ke jalan yang diberkati oleh Patriarkh Suci Tikhon serta para Hierarki dan Imam Agung Pertama Pendiri yang kenangannya diberkati.

Kendala-kendala baru terhadap hubungan normal yang telah muncul di dalam Gereja Luar Negeri kita, seperti tidak adanya pertobatan, kegagalan untuk memuliakan para Martir Baru Keluarga Kerajaan, Sergianisme, dan partisipasi dalam gerakan ekumenis, kini tidak lagi menjadi sesuatu yang tidak dapat diatasi. Pada tahun 1993, Yang Mulia, Patriarkh Moscow dan Seluruh Rusia, Alexey II dan Sinode Suci Gereja Orthodoks Rusia menyatakan, di hadapan Allah dan rakyat Rusia, pertobatan atas dosa pembunuhan Keluarga Kerajaan. Surat mereka pada peringatan 75 tahun pembunuhan Kaisar Nicholas II dan keluarganya menyatakan: «Dengan doa yang sungguh-sungguh dan rasa sakit yang mendalam di hati kami, kami memperingati Peringatan yang menyedihkan ini… Dosa pembunuhan raja, yang terjadi di tengah ketidakpedulian warga Rusia, belum pernah disesali oleh rakyat kami. Karena merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah dan hukum sipil, dosa ini sangat membebani jiwa rakyat kami, terhadap hati nurani moralnya.  Dan hari ini, atas nama seluruh Gereja, atas nama anak-anaknya, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup, kami menyerukan pertobatan di hadapan Allah dan umat atas dosa ini. Ampunilah kami, ya Allah! Kami menyerukan pertobatan seluruh umat kami, seluruh anak-anak kami, terlepas dari pandangan politik dan pendapat mereka tentang sejarah, terlepas dari sikap mereka terhadap gagasan Monarki dan kepribadian Tsar Rusia terakhir. Pertobatan atas dosa yang dilakukan oleh para leluhur kita seharusnya menjadi panji persatuan bagi kita. Semoga tanggal yang menyedihkan ini menyatukan kita dalam doa dengan Gereja Orthodoks Rusia di Luar Negeri, yang dengannya kami dengan tulus menginginkan pemulihan kesatuan spiritual dalam kesetiaan kepada Roh Kristus... .» Seruan itu, sayangnya, diabaikan.

Para Martir Baru Keluarga Kerajaan dimuliakan, dan Sergianisme serta ekumenisme ditolak, oleh Sobor Yubileum Para Uskup Gereja Orthodoks Rusia pada tahun 2000. Sergianisme, yang sebenarnya bukan sebuah doktrin tetapi sebuah cara berperilaku, ditolak dalam bab «Konsep Dasar Masyarakat» dalam Akta Sobor yang dipublikasikan, dan ekumenisme dalam bab «Prinsip Dasar Hubungan Gereja Orthodoks dengan Heterodoks.» Pada bulan Oktober 2001, dalam «Surat Persaudaraan kepada Sobor Para Uskup Gereja Rusia di Luar Negeri,» Yang Mulia, Patriarkh Alexey II kembali menyerukan pengampunan bersama dan pemulihan persekutuan liturgis. Jawaban Sobor Para Uskup ROCA hanya sedikit menggembirakan.

Seperti halnya di Gereja Rusia, penghormatan terhadap Martir Baru Keluarga Kerajaan dipraktikkan secara luas oleh umat beriman jauh sebelum pemuliaan resmi mereka, demikian pula halnya dengan umat paroki Gereja di Luar Negeri, ketika mereka mengunjungi Rusia, berdoa, mengaku dosa, dan mengambil bagian dalam Komuni Kudus di gereja-gereja dan biara-biara kesayangan mereka di Patriarkhat Moscow, dan telah melakukannya dengan rendah hati selama bertahun-tahun, tanpa mempermasalahkannya. Dan setelah mengunjungi Rusia, banyak imam kita, termasuk orang Amerika yang pindah ke iman Orthodoksi, menyatakan dalam percakapan pribadi bahwa mereka yang mengatakan tidak ada Rahmat di gereja-gereja Patriarkhat Moscow tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Karena tidak seorang pun ingin memprovokasi angin buruk pertikaian di dalam jajaran kita, sudah menjadi kebiasaan untuk tidak membuat pernyataan seperti itu di depan umum. Akan tetapi, sekarang setelah para pembawa angin buruk itu telah mengusir diri mereka sendiri dari Gereja, tidak menunjukkan rasa hormat kepada siapa pun termasuk Dewan Uskup, kemungkinan telah muncul lagi, dan mungkin untuk terakhir kalinya, untuk memulihkan kesatuan rohani yang menyenangkan Allah dan hubungan normal dengan seluruh Gereja Ibu.

Orang-orang berdosa dan perbuatan buruk selalu ada, ada sekarang, dan akan terus ada di sana, di Rusia, dan di sini di tengah-tengah kita. Namun, perpecahan tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi perpecahan sektarian, sebuah fenomena yang banyak dibahas dan dikhawatirkan oleh banyak imam dan umat paroki kita, baik orang Rusia maupun Amerika. Jika Gereja Rusia di Luar Negeri dibiarkan menjadi «pohon anggur yang patah», ia akan mengalami kekeringan yang lambat namun tak terelakkan, berhentinya pertumbuhan/ kehidupan yang tidak dapat diselamatkan oleh kumpulan kutipan terpilih dari Kanon. Di sisi lain, pemulihan kesatuan Ekaristi dan Kanonik dengan Gereja Ibu, dengan administrasi otonom Gereja Orthodoks Rusia di Luar Rusia, tampaknya menjadi Penunjuk Arah berikutnya yang wajar dalam Sejarah Eksodus Besar Gereja Rusia ke Diaspora saat ini.

Boston, 11 Desember 2001.

Martir Baru Metropolitan Seraphim (Chichagov) dari St.Petersburg

(Diterjemahkan dan direvisi oleh Penulis) Imam Agung Roman Lukianov 16/12/2003

https://orthochristian.com/7166.html

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGGEREJAAN IBU DAN ANAK SETELAH 40 HARI

Tradisi Koliva dalam Kekristenan Ortodoks

MENGAPA ORANG YANG MENINGGAL DIPERINGAT PADA HARI SABTU?