Sumber Dasar Ajaran Gereja Orthodoks Timur
Sumber Dasar Ajaran Gereja Orthodoks Timur
Oleh
Romo George Mastrantonis, Diedit oleh Romo George C. Papademetriou dan Dr.
David C. Ford
Pentingnya Pengetahuan tentang Sumber
Orang Kristen Orthodoks
harus mengetahui isi imannya seperti yang diajarkan oleh Gereja. Dia harus
dibimbing dalam mempelajari apa yang dimiliki Gereja dalam pengajarannya yang
tertulis (Alkitab) dan tidak tertulis (Tradisi Suci). Gereja Orthodoks
adalah satu-satunya Gereja yang sejak awal mempertahankan interpretasi yang
koheren dari ajarannya. Gereja menyetujui setiap anggotanya membaca sendiri dan
secara umum berbicara tentang imannya. Tetapi hal itu tidak mendorong
kesimpulan berdasarkan interpretasi pribadi individu.
"Jadi Filipus segera
pergi kepadanya (orang Etiopia), dan mendengarnya membaca kitab nabi Yesaya,
dan bertanya, 'Apakah engkau mengerti apa yang engkau baca?' Dan dia berkata,
'Bagaimana aku dapat mengerti kalua tidak ada yang membimbing aku?'",
Kisah Para Rasul 8:28-31.
"Pembimbing" ini adalah Gereja itu sendiri, dan bukan individu itu sendiri, dengan kemampuan yang terbatas dan kurangnya pengetahuan penuh tentang sumber-sumber ajaran Gereja.
Ada dan telah banyak
tokoh dalam Gereja yang telah mengabdikan hidup mereka untuk mempelajari
Alkitab dan memelihara serta melestarikan Tradisi Suci. Tetapi tidak ada yang
menjadi pemimpin gereja baru di luar Gereja Yang Tidak Terpecah. Oleh karena
itu, Gereja Orthodoks adalah satu-satunya yang mempertahankan utuh
"Paradosis", Tradisi tertulis dan tidak tertulis. Gereja, tidak
menghalangi individu untuk menggali makna mendalam dari Alkitab untuk menemukan
ekspresi baru. Tetapi ini selalu harus disahkan oleh Gereja secara keseluruhan,
di mana infalibilitas berada. Adalah penting untuk mengetahui bagaimana
kebebasan dan otoritas bekerja bersama-sama dalam pengajaran dan pemerintahan
Gereja. Untuk mencapai pemahaman ini, orang Kristen Orthodoks harus mengetahui
sumber dasar informasi.
Setiap anggota Gereja, Klerus dan orang awam, memiliki hak dan kewajiban untuk melindungi iman Orthodoks dari salah tafsir dan pernyataan palsu. Tetapi ini tidak dapat dilakukan tanpa mengetahui apa ajaran Gereja yang benar. Alkitab adalah batu penjuru yang tak tergoyahkan yang selama berabad-abad telah membimbing orang Kristen dalam mempelajari Kehendak Allah. Para Bapa Gereja, guru dan nabi, adalah alat yang dengannya Kehendak Allah ditransmisikan kepada para anggota Gereja sehingga mereka dapat mengikuti langkah-langkah yang diwahyukan Yesus Kristus. Seberapa penting pengaruh Gereja dalam membimbing umatnya? Jawabannya ada di lebih dari 200 denominasi Kristen yang memiliki Alkitab yang sama, namun mereka bersikeras bahwa interpretasi khusus mereka saja yang mengajarkan kebenaran Alkitab. Dengan demikian mereka terpecah. Sebagian besar dari mereka menyatakan bahwa Alkitab dapat dipelajari secara otodidak dan tidak memerlukan interpretasi dari luar sementara mereka semua mengklaim hal yang sama, mereka masih terpecah.
Gereja - dari katakombe hingga katedral, dari pengajaran sederhana hingga dogma dan doktrin, dari arahan sederhana hingga administrasi formal - mengikuti langkah-langkah yang telah diwahyukan kepadanya dari Allah Yang Mahakuasa dalam kelanjutan yang koheren dari ajaran iman eksternal dan internalnya. Ada dua perbedaan khusus dalam Gereja Orthodoks. Salah satunya adalah hubungan antara kebebasan dan otoritas, dalam pemerintahan Gereja. Yang lainnya adalah sistem gereja yang mengatur dirinya sendiri. Perbedaan ini tidak terlalu dikenal di antara gereja-gereja Kristen lainnya. Otoritas tertinggi dalam Gereja Orthodoks adalah "Hati Nurani Gereja", yang merupakan persetujuan orang-orang di dalam Gereja Orthodoks atas penjelasan iman yang diberikan pada saat perselisihan. Sidang-sidang umum (Sinode/ Konsili) dari gereja-gereja Orthodoks nasional yang berpemerintahan sendiri, yang terdiri dari para klerus, terutama para uskup, bertemu untuk memutuskan, dengan pendapat bulat, masalah-masalah iman yang dipersengketakan. Gereja-gereja nasional yang berpemerintahan sendiri memiliki ajaran, kanon dan peribadatan liturgi yang sama, dan, pada kenyataannya, merupakan Satu Gereja.
Orang Kristen Orthodoks harus mengetahui dan memahami fakta-fakta ini agar dapat berpartisipasi penuh dalam kegiatan Gereja dan untuk mempertahankan posisinya dengan penjelasan yang otoritatif pada saat diskusi di antara teman-teman gereja lain. Sangatlah penting bagi umat Kristen Orthodoks untuk mengetahui sumber-sumber ajaran terutama ketika ia harus melawan propaganda dari mereka yang akan menyebarkan imannya kepada anggota Gereja Orthodoks. Ini terjadi di Gereja mula-mula dan di abad ke-17, dan juga terjadi hari ini. Di Gereja mula-mula, ketika dogma dan ajaran Gereja belum berkembang secara formal, banyak anggota gereja yang beralih ke bidat, gnostik, dan kelompok lain. Juga, sejak abad keempat, muncul orang awam, klerus, bahkan uskup dan patriarkh yang mengajarkan iman Kristen secara salah. Pada abad kesembilan ketika Skisma Besar mulai berkembang antara bagian Timur dan Barat Gereja, dan khususnya sejak abad ke-16, dengan munculnya Protestanisme, interpretasi yang keliru ini menjadi lebih eksplisit. Terhadap semua faktor ini, Gereja Orthodoks telah berjuang untuk menjaga dirinya tetap utuh untuk mempertahankan kebenaran yang telah diajarkan oleh Pendirinya, Yesus Kristus dan para Rasul-Nya, di mana akar Gereja dapat ditemukan.
Keadaan ini menuntut agar Gereja mempertahankan ajarannya dan mengemukakan sumber-sumbernya dengan interpretasi yang akurat selama berabad-abad. Perlu ditekankan bahwa pengembangan sumber-sumber ini adalah untuk melawan pendapat-pendapat yang salah dari orang-orang Kristen itu sendiri; pendapat yang tidak didasarkan pada interpretasi yang benar dari Gereja itu sendiri. Sumber-sumber ajaran Gereja yang akurat ini disebutkan di sini untuk melawan pendapat yang salah berdasarkan salah tafsir individu.
Sumber Akurat dari Gereja Ortodoks
Apa sumber dari Gereja
yang Satu Tak Terpecah-pecah, Gereja Orthodoks, yang darinya ajaran-ajarannya
muncul? Mengapa penting bagi para anggota Gereja untuk mengetahui sumber-sumber
ini? Sumber utama ajaran Orthodoks adalah Alkitab dan Tradisi Suci.
Sumber ketiga adalah tulisan-tulisan yang dtulis oleh Bapa Apostolik
dan para Apologis. Sumber keempat adalah keputusan-keputusan
sinode / Konsili kanonik, baik lokal maupun ekumenis, dan ucapan iman mereka,
terutama Simbol Iman (Kredo Nicea) dan beberapa kanon mereka yang
berkaitan dengan iman. Sumber kelima adalah khotbah-khotbah yang
ditulis pada saat terjadi perselisihan dan perpecahan, khususnya saat Skisma
Besar antara bagian Timur dan Barat dari Gereja Tak Terbagi (1054). Sumber
keenam adalah berbagai wacana yang ditulis setelah Reformasi Protestan;
dokumen-dokumen ini mengkritik berbagai kesalahan Protestan dan Katolik Roma.
Kitab Suci tidak ditulis sebagai buku yang sistematis yang memuat ekspresi iman dalam simbol atau pengakuan iman. Ada banyak bagian yang menyampaikan kepercayaan di dalam Kristus, atau di dalam Kristus dan Roh Kudus, dan atau di dalam Bapa, Anak dan Roh Kudus. Ayat-ayat ini, yang digunakan sebagai pengakuan dan simbol kepercayaan, diungkapkan dalam beberapa kata. Bagian-bagian seperti itu dapat ditemukan dalam Perjanjian Baru, seperti dalam Matius, di mana Kristus yang Bangkit menugaskan para Rasul:
"Karena
itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama
Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (28:19-20).
Para Rasul menasihati orang-orang untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Gereja mula-mula perlu melestarikan frasa-frasa ini terutama untuk digunakan sebagai simbol dan pengakuan iman dalam pernyataan calon baptis. Pengakuan seperti itu ditemukan dalam Roma 1:3-4, 1 Korintus 15:3-8, Filipi 2:5-11 dan 1 Timotius 3:16:
"Sungguh agung
apa yang kita akui, yang adalah misteri iman kita: Dia (Kristus) dinyatakan di
dalam daging, dibuktikan dalam roh, dilihat oleh malaikat, diberitakan di
antara bangsa-bangsa, dipercaya di dunia, diangkat di dalam kemuliaan".
Kemudian, ketika Kekristenan mulai tumbuh dan menjadi lebih terorganisir, para uskup menulis pengakuan dan simbol iman berdasarkan ajaran para Rasul, menjadi sumber dalam diri mereka sendiri. Pengakuan semacam itu ditemukan dalam tulisan-tulisan Uskup Ignatius (+/- tahun 35-107), Yustinus Martir (tahun100-165) dalam Apologi-nya, Uskup Ireneus (tahun 130-200) dan Origen (tahun 185-254) dan khususnya dalam Simbol Apostolik (Pengakuan Iman Rasuli). Simbol Apostolik yang digunakan dalam pembaptisan pernah dianggap ditulis oleh 12 Rasul, dengan masing-masing Rasul menulis satu artikel. Simbol ini salah dikaitkan dengan mereka. Mereka tidak menulisnya. Simbol ini, bagaimanapun, digunakan oleh seluruh Gereja, karena itu diakui sebagai salah satu dari tiga simbol iman ekumenis, yang lebih banyak digunakan di bagian Barat Gereja.
Simbol (Pengakuan Iman) Nikea-Konstantinopel
Sumber berikutnya,
yang muncul karena kebutuhan atas perselisihan di abad keempat, adalah
pengakuan iman, yang masih dikenal sebagai sumber fundamental dan pernyataan
tertinggi iman Gereja. Ini dirumuskan oleh Sinode Ekumenis Pertama di Nikea
pada tahun 325 (pasal 1-7) dan oleh Sinode Ekumenis Kedua di Konstantinopel
pada tahun 381 (pasal 8-12). Simbol ini tidak hanya dinamai menurut kota di
mana ia ditulis, tetapi juga dikenal dengan jumlah uskup yang hadir pada sinode
di Nikea, yang disebut sebagai "Simbol Iman 318 Bapa". Sinode di Nikea
diadakan pada tahun 325, untuk menyelesaikan perselisihan yang disebabkan oleh
Arius, seorang presbiter, yang menyangkal keilahian Kristus sebagai Pribadi
Kedua dari Tritunggal Mahakudus dan dikatakan olehnya bahwa ada suatu masa
ketika Dia (Yesus) tidak ada. 318 Bapa merumuskan ajaran yang benar dalam tujuh
pasal pertama Pengakuan Iman Nikea. Terlepas dari pernyataan kebenaran dari
sinode ini, Arianisme masih terus berlanjut dan menjadi sekte Kristen yang
terpecah-pecah, dimana para uskup yang gagal menerima ajaran yang benar tentang
sifat Kristus dikucilkan. Pada tahun 381, sinode lain harus diadakan untuk
menghentikan pengajaran yang salah dari Makedonia, yang menggunakan penalaran
Arian untuk mempertanyakan keilahian Roh Kudus, mengklaim bahwa Roh Kudus
diciptakan oleh Sang Putra. Para uskup di Sinode di Konstantinopel merumuskan
ajaran yang benar tentang Roh Kudus, bahwa Roh Kudus tidak diciptakan, tetapi
berasal dari Sang Bapa dan diutus oleh Sang Putra. Kebenaran yang dirumuskan
ini menjadi bagian terakhir dari Pengakuan Iman Nikea (lima pasal terakhir).
Oleh karena itu ungkapan, "Satu Allah dalam tiga Hipotesis
(pribadi)", berlaku. Pengakuan Iman Nikea ini, telah menjadi sumber utama
ajaran Gereja Kristen sejak Sinode Pertama dan Kedua.
Pengakuan Iman Athanasius
Sumber ajaran Gereja
Orthodoks berikutnya adalah Pengakuan Iman Athanasius, yang ditulis dan
digunakan oleh bagian Barat Gereja dan kemudian diterima oleh bagian Timur,
meskipun tidak digunakan dalam kehidupan liturginya. Pengakuan Iman ini
merupakan sumber karena menyatakan ajaran Orthodoks tentang iman Gereja.
Pengakuan Iman ini tidak ditulis oleh Athanasius, tetapi dikaitkan dengannya,
dan diyakini oleh beberapa orang ditulis oleh St.. Ambrose dalam bahasa Latin.
Hal ini diyakini telah ditulis baik pada abad keempat atau kelima.
Sinode Ekumenis
Ajaran doktrinal
Alkitab dan Sinode Ekumenis merupakan isi Iman dan dasar dogmatis Orthodoks
yang tak tergoyahkan. Tubuh Gereja, yang terdiri dari klerus dan awam, adalah
pembawa infalibilitas Gereja, di mana Roh Kudus melindunginya dari kesalahan.
Tetapi suara Gereja untuk menyatakan infalibilitasnya adalah otoritas
tertingginya - Sinode Ekumenis di mana seluruh pleroma (umat Gereja) diwakili
oleh para uskupnya. Keputusan Sinode ini adalah sumber ajaran Gereja. Ada
ucapan-ucapan sinode (oroi) yang secara langsung mengungkapkan ajaran dogmatis
Gereja, dan beberapa kanon yang memegang ajaran dogmatis, meskipun terutama
berkaitan dengan disiplin dan administrasi dalam Gereja. Sinode Ekumenis adalah
sumber utama kebenaran Gereja. Simbol (Pengakuan Iman) Nikea yang dirumuskan
oleh Sinode Pertama dan Kedua berulang kali dinyatakan kembali dalam lima
Sinode Ekumenis yang mengikutinya hingga abad kedelapan.
Para Bapa Gereja
Sumber lain yang
berkontribusi terhadap pengetahuan Iman Orthodoks adalah beberapa Bapa Gereja
terkemuka yang menulis khotbah dan homili tentang pokok-pokok iman, yang
diterima Sinode Ekumenis sebagai ajaran kanonik. Para Bapa terkemuka ini
adalah: Athanasius Agung (tahun 295) di mana suratnya yang menyebutkan
kitab-kitab kanonik dari Alkitab; Basilius Agung (330-379) di mana khotbahnya
yang dikirim ke Amphilochion, di mana ia menyebutkan ajaran sesat (bagian dari
surat ini dibagi menjadi 92 kanon, dengan kanon 1, 5, 47, 91 dan 92 berisi
materi ekspresi simbolis iman ); Gregorius dari Naziatizus (tahun 329-390) di
mana tulisan-tulisannya tentang Kitab-Kitab Kanonik dari Alkitab, dan Uskup
Amphilochios dari Ikonion (340-395) di mana di mendaftar Kitab-Kitab Kanonik
dari Alkitab. Tulisan-tulisan para Bapa ini memiliki meterai ratifikasi
kanonik. Tidak termasuk di sini adalah tulisan-tulisan Bapa-Bapa lain yang
menjadi kanon tentang ketertiban dan disiplin, karena yang dijelaskan di sini
hanya sumber-sumber yang berhubungan dengan iman. Ini kemudian adalah para Bapa
terkemuka dari periode setelah- sinode Nikea (sampai abad keempat) yang
tulisan-tulisannya menjadi sumber kanonik dari ajaran Gereja, yang telah
diadopsi oleh Sinode Ekumenis.
Surat Ensiklik Photius untuk Lima Patriarkh di Timur (866)
Patriarkh Photius dari
Konstantinopel adalah seorang hierarki dan pemimpin yang luar biasa di mana
sebagai orang awam dia dipilih sebagai patriarkh melalui pemungutan suara
rakyat dan otoritas gerejawi. Dia menertibkan Gereja dan meningkatkan pekerjaan
misionarisnya, terutama di Bulgaria. Apa yang menjadi sumber utama lain dari
ajaran Gereja adalah surat ensiklik Photius yang dikirim kepada para Patriarkh
Timur, dengan persetujuan Sinode Konstantinopel, memprotes inovasi Paus
Nicholas I dari Roma: campur tangannya dalam urusan negara Bulgaria yang baru
bertobat, penambahan frasa filioque dalam Pengakuan Iman Nikea, penerbitan
Dekrit Pseudo-Isidorian dan Hadiah Pseudo-Konstantianus. Ensiklik Photius ini
menyatakan kembali ajaran yang benar dari Pengakuan Iman Nikea, menentang frasa
filioque; menegaskan dengan benar tatanan yurisdiksi kanonik administrasi
Gereja; menegaskan kembali ajaran yang benar melawan keutamaan paus,
infalibilitasnya, kekayaan Kristus dan orang-orang kudus, indulgensi, api
penyucian, Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Semua inovasi Barat ini termasuk
di antara faktor-faktor yang pada akhirnya menyebabkan Skisma Besar pada tahun
1054, yang juga menjadi panggung bagi gerakan Protestan pada tahun 1517. Surat Ensiklik
Photius menyatakan kembali dan menegaskan kembali ajaran orthodoks Gereja yang Tak
Terpecah, dan berdiri sebagai sumber utama ajaran Orthodoks.
Keroularios (1054): Dua Surat kepada Patriarkh Peter
Sumber penting ajaran
Gereja Orthodoks adalah dua surat yang dikirim oleh Patriarkh Michael
Keroularios dari Konstantinopel kepada Patriarkh Peter dari Antiokhia, yang
merupakan Langkah yang menutup Skisma Besar antara bagian Timur dan Barat dari Gereja
yang Satu (1054). Pada saat itu, Paus Leo IX ikut campur dalam yurisdiksi
Konstantinopel di Italia Selatan, di mana Paus telah memperkenalkan inovasi,
seperti pendahulunya di Bulgaria. Paus mengirim surat hinaan kepada Patriarkh
Michael dan Uskup Yohanes dari Tranis dari Apoulia di mana ia mengklaim
keunggulannya atas seluruh Gereja baik di Timur maupun di Barat, dan bahwa Paus
tidak dapat salah dan memiliki otoritas atas yurisdiksi politik dan gerejawi.
Hadiah Pseudo-Konstantinus digunakan sebagai dasar untuk klaim Paus.
Selain itu, Paus Leo mengirim seorang utusan, Kardinal Humbert, seorang yang arogan dan berperilaku buruk, ke Konstantinopel. Dia menghina Patriarkh pada tanggal 16 Juli 1054, dengan memasuki Katedral Haghia Sophia selama Liturgi Ilahi, menghentikan ibadah dan membacakan surat dengan lantang dan kemudian menempatkan di altar sebuah fitnah, Surat Ekskomunikasi Patriarkh dan para pengikutnya. Tindakan Paus Leo IX ini menyelesaikan perpecahan antara Barat dan Timur yang telah dimulai pada 866. Patriarkh memanggil sebuah sinode dari banyak uskup pada tanggal 20 Juli 1054. Mereka, pada gilirannya, mengucilkan pemfitnah, pembully, dan semua yang mendukungnya. namun sengaja tidak menyebut nama Paus Leo agar membuka peluang rekonsiliasi. Ironisnya, Paus Leo IX telah meninggal pada 13 April 1054, tiga bulan sebelum Kardinal Humbert mencapai Konstantinopel.
Sebelum Kardinal Humbert datang ke Konstantinopel, Patriarkh Michael telah mengirimkan kepada Patriarkh Peter dari Antiokhia dua surat di mana ia menyebutkan secara rinci semua inovasi Paus, berkonsultasi dengan ensiklik Patriarkh Photius (866) untuk referensi. Tiga dari 12 inovasi yang terdaftar adalah: penggunaan roti tidak beragi oleh Gereja Barat untuk Liturgi, pembaptisan hanya dengan satu kali penyelaman (bukan tiga kali) dan frasa filioque dalam Pengakuan Iman. Kedua surat tersebut dianggap sebagai sumber ajaran Gereja Orthodoks karena menunjukkan inovasi-inovasi Gereja bagian Barat yang dibuat di luar sinode ekumenis, sehingga tanpa pengesahan oleh seluruh badan Gereja. Surat-surat ini mendapat perhatian khusus karena ditulis tidak lama sebelum Skisma terjadi.
Buku-buku Sinode 1341, 1347, 1351 Tentang Hesikasme.
Buku-Buku (wacana) yang
ditulis untuk memperjelas ajaran Orthodoks mengenai Hesikasme (kata Yunani yang
berarti tenang), sebuah sistem mistisisme yang disebarkan di Gunung Athos oleh
para biarawan abad ke-14. Kontroversi muncul atas masalah substansi Allah dan
energi Allah. Hesikasme berarti kecenderungan spiritual para biarawan Orthodoks
menuju teori ketenangan yang jelas dan mengarah ke kesatuan mistik dengan Allah
dalam doa melalui Rahmat Ilahi. St. Gregorius dari Palamas mengajarkan
perbedaan antara pengajaran Hesikasme yang benar dan teori Latin. Perselisihan
ini menyebabkan pemanggilan tiga sinode (1341, 1347, 1351), yang mengeluarkan
tiga Tomes (Buku) yang menyatakan arti dan interpretasi yang benar dari Hesikasme
dalam sebuah dogma, sehingga menjadi sumber ajaran orthodoks ini.
Ensiklik St. Markus dari Ephesus (1440)
Ensiklik Uskup Markus
dari Efesus adalah sumber terpenting dari ajaran Orthodoks karena ditulis pada
saat Gereja Barat mengirim kelompok-kelompok terorganisir untuk mengubah Orthodoks
ke Uniates - mereka yang mengikuti ritus Gereja Orthodoks, tetapi berada di
bawah kekuasaan Paus. Ensiklik ini memusatkan perhatian pada gerakan ini, yang menimbulkan
penentangan yang kuat terhadapnya.
Pengakuan Gennadios Scholarios (1455)
Setelah jatuhnya
Kekaisaran Bizantium pada tahun 1453, sang penakluk, Mohammed II, meminta agar
Patriarkh Gennadios dari Konstantinopel memberinya ringkasan tentang iman
Kristen. Gennadios menulis dan menyerahkan Pengakuan yang merupakan pernyataan
singkat dan akurat dari Iman Orthodoks dan sumber penting ajaran Gereja.
Korespondensi Patriarkh Yeremia II (1573-1582)
Korespondensi pertama
terkait dengan upaya persatuan antara Gereja Orthodoks dan Gereja Lutheran baru
terjadi pada abad keenam belas. Sekelompok theolog Jerman di Universitas
Tubingen, di bawah kepemimpinan Jacob Andreae dan Martin Crusius, mengirim
Stephen Gerlack ke Konstantinopel untuk menyampaikan kepada Patriarkh Yeremia
II pada tanggal 24 Mei 1575, tiga surat dan Pengakuan Iman Augsburg yang
diterjemahkan dalam bahasa Yunani. Tujuan mereka adalah untuk mengeksplorasi
kemungkinan kesatuan gerakan baru dengan Gereja Orthodoks Kuno. Patriarkh
mengirimkan jawaban pertama dari tiga jawaban panjang kepada para theolog pada
tanggal 15 Mei 1576, melalui kedutaan Jerman. Para theolog kemudian mengirimkan
jawaban rinci kepada Patriarkh. Secara keseluruhan, korespondensi pada
Pengakuan Iman Augsburg menghasilkan tiga jawaban dan tiga tanggapan. Matinya
prinsip-prinsip di kedua belah pihak mengakhiri upaya ini. Tiga Jawaban
Patriarkh Yeremia II dari Konstantinopel adalah sumber penting yang menyatakan
kembali ajaran Gereja Orthodoks yang akurat. Korespondensi Yeremia adalah
kontak pertama Gereja Orthodoks dengan gerakan Protestan baru.
Pengakuan Kritopoulos, Patriarkh Alexandria (1625)
Pengakuan berikutnya yang
digunakan sebagai sumber ajaran Gereja ditulis oleh Patriarkh Metrophanis
Kritopoulos - seorang kanselir pada saat itu - ketika dia belajar di Inggris
dan Jerman. Itu sebagai tanggapan atas permintaan orang-orang di negara-negara
ini mengenai penjelasan tentang Iman Orthodoks. Pengakuan Iman ini memberikan
penjelasan yang berwibawa, informatif dan tidak menyinggung tentang pengakuan
Iman dan ditulis dengan metode ilmiah. Itu dipresentasikan kepada para siswa
dan cendekiawan dari Iman Kristen di Inggris pada tahun 1626 dan diterima
dengan baik.
Sumber-Sumber Ajaran Orthodoks yang Lain
Sumber tambahan
keputusan dan jawaban dari berbagai sinode Gereja Orthodoks yang berkaitan
dengan iman tercantum di bawah ini:
• Risalah Sinode di
Konstantinopel tahun 1691.
• Jawaban dari
Patriarkh Orthodoks di Timur kepada Anomot Anglikan, 1716-1725
• Ensiklik Sinode di
Konstantinopel pada tahun 1722 untuk Gereja Orthodoks Antiokhia.
• Pengakuan Iman dari
Sinode di Konstantinopel pada tahun 1727.
• Ensiklik Sinode di
Konstantinopel pada tahun 1836; Melawan Misionaris Protestan.
• Ensiklik Sinode di
Konstantinopel tahun 1838: Melawan Inovasi Latin.
• Jawaban dari
Patriarkh Orthodoks dari Timur kepada Paus Pius IX pada tahun 1848.
• Gregorius VI,
Patriarkh Konstantinopel: Penolakan Undangan Paus ke Sinode Latin di Vatikan,
1868.
• Jawaban Sinode
Konstantinopel tahun 1895 kepada Paus Leo XIII.
• Dekrit Konferensi
Orthodoks di Moskow pada tahun 1948 menentang Papisme.
• Ensiklik Patriarkhat
Konstantinopel mengacu pada Gerakan Ekumenis Gereja-Gereja pada tahun 1920 dan
1952.
Pentingnya Sumber Kontemporer Primer & Sekunder
Simbol (Pengakuan
Iman) Nikea-Konstantinopel (Kredo Nicea) dan ucapan-ucapan dogmatis dari Sinode
Ekumenis adalah sumber utama dan khas dari iman Gereja Orthodoks. semuanya
telah diratifikasi oleh Sinode dan tidak dapat diubah dalam bentuk dan
substansi. Sumber-sumber lain, yaitu keputusan sinode-sinode yang diadakan
setelah abad kedelapan, memiliki makna sekunder, tetapi sangat penting bagi
evolusi historis ajaran Gereja Orthodoks, terutama ajaran yang menentang
inovasi Gereja Katolik, yang pada 1054 memisahkan diri dari Gereja Orthodoks,
dan dengan mengacu pada Gereja Protestan yang berasal dari abad ke-16. Ini
adalah sumber-sumber sekunder, menunggu ratifikasi oleh Sinode Ekumenis, dan
dapat diterima, dikoreksi atau tidak diterima. Ucapan-ucapan (sumber utama)
Gereja Orthodoks sebagian besar merupakan bagian dari Tradisi Suci Gereja, yang
memiliki validitas yang sama dengan Kitab Suci.
Keputusan Tujuh Sinode Ekumenis termasuk Sinode Regional, Para Rasul Suci dan beberapa Bapa Gereja yang telah diratifikasi oleh Sinode Ekumenis, terutama Sinode Keenam dalam Kanon 102. Jadi anggota Gereja Orthodoks yang setia harus mempelajari sumber-sumber utama dengan seksama, kemudian baca sumber sekunder yang tercantum di sini. Perbedaan antara sumber primer dan sekunder adalah penting, karena 'sumber primer ditemukan dalam kehidupan dan ajaran Gereja Yang Tidak Terpecah di seribu tahun pertama Kekristenan dan diadopsi dan dipertahankan seperti itu selama berabad-abad, kecuali inovasi seperti frasa filioque dalam Pengakuan Iman Nikea.
Karena Tradisi Suci memiliki validitas yang sama dengan Alkitab, identifikasi sumber-sumber sangat penting karena Tradisi berakar pada sumber-sumber ini, yang ditulis dan dilestarikan oleh Gereja itu sendiri. Ini penting, karena Gereja membuat keputusan dan menafsirkan Alkitab agar menghilangkan kemungkinan salah tafsir individu.
"
Yang terutama harus
kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh
ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh
kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas
nama Allah." (2 Petrus 1:20-21)
Karena Gereja belum menulis dan secara resmi mengadopsi katekismus di mana ajaran Gereja yang sempurna diungkapkan secara pasti, theolog memiliki "kebebasan dengan otoritas", untuk mengungkapkan kembali Kebenaran Kristus yang sama yang tidak dapat diubah. Kekristenan (atau Susunan Kristen) telah dipisahkan menjadi banyak bagian karena individu selama berabad-abad telah mengambil tanggung jawab untuk menafsirkan Alkitab secara pribadi. Mereka telah menggunakan pengetahuan yang terbatas dan tidak menyadari sumber-sumber dasarnya, dan akibatnya sampai pada penafsiran yang salah, masing-masing mengaku dipimpin oleh Roh Kudus. Dengan demikian, Roh Kudus dibuat tampak sebagai kekuatan pemisah bagi masing-masing, daripada memimpin dan menjadi penjaga Gereja Kristus yang Tak Terpecah seperti yang diungkapkan dalam Kitab Suci. Rasul Petrus memperingatkan terhadap interpretasi pribadi dari Kitab Suci dengan mengatakan bahwa:
“Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain. Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh”. (2 Petrus 3:15-17).
Umat Kristen Orthodoks diberkati untuk menjadi bagian dari Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik yang telah dipelihara secara utuh, oleh belas kasihan, kepenuhan Iman Kristen. Dalam Orthodoksi Suci, penafsiran Kitab Suci dan ajaran Gereja memiliki pengesahan bulat dari Gereja, dengan otoritasnya yang tidak dapat salah. Penafsiran ajaran Kristus oleh Gereja yang sempurna inilah yang harus terlebih dahulu diketahui dan dipahami oleh orang Kristen Orthodoks yang dinasihati oleh Rasul Petrus:
"Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi
pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab
dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah
lembut dan hormat,"
(1 Petrus 3:15)
https://www.goarch.org/-/the-basic-sources-of-the-teachings-of-the-eastern-orthodox-church
Komentar
Posting Komentar