SEJARAH LITURGI ILAHI

SEJARAH LITURGI ILAHI

"Liturgi" adalah kata Yunani yang menunjukkan, secara umum, Ibadah berjemaah. Dalam bahasa gereja, ini menandakan Ibadat Ilahi dimana dipersembahkan Tubuh dan Darah Kristus dalam Sakramen Perjamuan Kudus atau Ekaristi.

"Ekaristi" dalam bahasa Yunani berarti "Ucapan Syukur". Ekaristi adalah Sakramen Perjanjian Baru yang ditetapkan oleh Kristus sebelum sengsara-Nya. Para Rasul Suci dan Penulis Injil Matius, Markus, dan Lukas, dengan secara rinci menggambarkan institusi Sakramen Ekaristi dalam Perjamuan Tuhan pada Kamis Agung: Mat. 26, 26-29; Markus 14, 22-24; Lukas 22, 19-23. Kristus mengambil roti di tanganNya yang kudus dan melihat ke langit, memuliakan dan bersyukur kepada Bapa, memecahnya menjadi beberapa bagian dan memberikannya kepada para murid sambil berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuhku yang diserahkan bagi kamu". Murid-murid mengambil roti dari tangan-Nya, dan membaginya di antara mereka sendiri. Setelah itu, Dia mengambil cawan anggur yang dicampur dengan air, mengucap syukur kepada Allah Bapa, dan berkata kepada para murid: "Minumlah kamu semuanya, karena ini adalah darah-Ku, dari Perjanjian Baru yang ditumpahkan untukmu dan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa". Dan mereka semua meminumnya. Setelah itu, Dia memerintahkan mereka: "perbuatlah ini mejadi peringatan akan Aku". Para Rasul Kudus dengan tegas memenuhi perintah Kristus ini dan merayakan Sakramen Komuni. Begitu juga para Uskup dan Presbiter dari gereja yang didirikan di atas para Rasul di mana mereka ditahbiskan oleh para Rasul, menggunakan tradisi tak tertulis ini hingga abad ke-4.

St. Basilius Agung, Uskup Agung Kaesarea dari Kappadokia (meninggal tahun 379) atas dasar tradisi gereja kuno, menuliskan Liturgi Ilahi yang sekarang dirayakan 10 kali setahun oleh Gereja Orthodoks.

St. Yohanes Krisostomos, Uskup Agung Konstantinopel (meninggal tahun 404) dengan tidak mengubah esensi Liturgi, mempersingkat Liturgi St. Basilius Agung, dan dalam bentuk ini sekarang dirayakan di gereja-gereja kita pada hari Minggu dan hari kerja sepanjang tahun. Sedangkan St. Kyril menerjemahkan Liturgi dari bahasa Yunani asli ke dalam bahasa Slavonik, bahasa Gereja Rusia, pada pertengahan abad ke-9.

ATURAN LITURGI.

Liturgi terdiri dari tiga bagian: 1. Persembahan. 2. Liturgi Katekumen. 3. Liturgi Umat Beriman.

Imam merayakan Korban Persembahan di Altar (tempat kudus) di Meja Persembahan, meja terpisah berdiri di sisi utara atau kiri Altar. Lima roti persembahan dibawa ke gereja untuk perayaan Liturgi, roti gandum khusus dengan meterai/stempel Salib, dan anggur merah anggur murni. Dalam ibadah Persembahan ini salah satu roti, dan anggur yang diencerkan dengan air, disiapkan untuk Sakramen Komuni. Sebagian dipotong dari roti ini dan ditempatkan di atas piring suci, sebuah piring khusus dengan penyangga, dan ditutup dengan Bintang. Anggur dituangkan ke dalam piala, (Potir dalam bahasa Yunani). Cawan dan piring suci ditutup dengan kain penutup (aer), kain khusus yang disulam dengan gambar Kerub. Ibadah Persembahan tidak termasuk dalam buku ini karena jemaat tidak berpartisipasi di dalamnya. Ibadah di mana umat mengambil bagian, seperti dalam buku ini, dimulai dengan Liturgi Katekumen. Pada zaman kuno, orang-orang yang belum dibaptis diizinkan untuk hadir pada Ibadah ini, dengan ketentuan bahwa mereka telah memperoleh ajaran/pendidikan dalam kebenaran Iman Kristen, dan bersiap untuk menerima Sakramen Pembaptisan. Mereka ini yang disebut Katekumen. Bagian Liturgi ini ditutup dengan undangan kepada para Katekumen untuk meninggalkan gereja: "Katekemen hendaklah kalian keluar."

Setelah ini, dimulailah Liturgi Umat Beriman, di mana Sakramen Komuni atau Ekaristi dirayakan. Hanya orang Kristen Orthodoks yang terbaptis yang berpartisipasi dalam ibadah ini. Nyanyian Kerub dinyanyikan: " Kita yang secara rahasia menggambarkan Kerubim ", di mana benda-benda anugerah kudus dibawa dari meja Persembahan ke Altar.

Selama penyerahan benda-benda anugerah kudus, Imam berdoa agar Tuhan Allah mengingat di dalam Kerajaan Surgawi-Nya semua pejabat, semua pekerja di Bait Suci, semua anggota Persaudaraan Biara pria dan wanita, semua yang hadir di ibadah ini, dan semua umat Kristen Orthodoks.

Sebelum Konsekrasi Ekaristi, Pengakuan Iman dinyanyikan, dan setelah itu bagian penting dari Liturgi dimulai dengan kata-kata: "Marilah kita mengucap syukur kepada Tuhan."

Dalam doa berikut, semua berkat dari Tuhan untuk umat manusia dikenang, kemuliaan Tuhan dinyanyikan dengan kata-kata dari kidung Seraphim: "Kudus, Kudus, Kudus" dan institusi Sakramen Ekaristi oleh Juruselamat di Perjamuan Akhir  Tuhan dikenang.

Pada saat Sakramen dikonsekrasi, kidung: "Kami memuji-Mu, kami memberkati-Mu, kami mengucap syukur kepada-Mu, ya Tuhan, dan kami berdoa kepada-Mu, ya Allah kami", dinyanyikan. Setelah konsekrasi benda-benda anugerah kudus, kidung pujian dinyanyikan bagi Bunda Allah: "Sungguhlah patut dan benar,…. " dan para Suci dan orang-orang Kristen Orthodoks baik yang masih hidup maupun sudah meninggal disebutkan. Sebelum Komuni Kudus maka dikidungkan doa, "Bapa Kami" dan setelah itu para klerus di Bait Suci menerima Komuni. Sekarang Pintu Suci terbuka, dan kemudian umat beriman menerima Komuni.

Setelah Komuni Kudus diterima oleh semua, Benda-benda anugerah kudus dibawa kembali ke Meja Persembahan di Altar dan doa di depan mimbar dibacakan. Liturgi kemudian diakhiri dengan berkat dari Imam dan menciun Salib.

MAKNA PENTING LITURGI.

Liturgi adalah untuk orang Kristen, tempat pertemuan Surga dan Bumi. Di dalam Liturgi persembahan roti dan anggur duniawi, yang melambangkan kehidupan duniawi, menjadi Tubuh dan Darah Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus, dan mereka yang mengambil bagian dalam makanan ini untuk jiwanya bergabung dalam kehidupan mistik bersama Kristus. Jadi melalui Liturgi, Hidup Kristus diperluas ke dalam kehidupan sehari-hari anak-anak-Nya.

Ketika seorang Kristen Orthodoks bersiap untuk menerima Komuni Kudus, pertama-tama ia harus membersihkan jiwanya melalui pertobatan dan pengakuan dosa. Tanpa hal-hal ini, Gereja Orthodoks tidak akan mengizinkan umat beriman untuk menerima Komuni. Pengakuan dosa adalah pengakuan sepenuh hati atas semua dosa, kesalahan, dan kekhilafan kita, disertai dengan tekad untuk menjadi baik dan hidup sesuai dengan perintah Kristus. Pada saat pengakuan dosa, pengampunan diterima, yang merupakan jaminan Gereja akan pengampunan Allah. Pertobatan disertai dengan puasa, dan pada hari kita menerima Sakramen, kita harus berpuasa sampai kita menerima komuni.

Selama Liturgi, semua yang hadir harus berdiri dengan penuh hormat dan bergabung dalam doa bersama. Doa di gereja mengangkat jiwa, mengalihkan pikiran dari hal-hal duniawi, dan memberikan kedamaian dan kepuasan bagi jiwa. Doa harus diajarkan sejak kecil. Orang yang tidak tahu bagaimana berdoa, tidak bisa menjadi orang Kristen sejati. Para Rasul memerintahkan kita untuk berdoa terus-menerus, setiap hari, di rumah dan dalam perjalanan, bekerja atau beristirahat. Di gereja, doa memiliki makna khusus karena seseorang di sini berdoa tidak sendirian tetapi bersama banyak orang lain. Doa bersama merupakan bagian yang sangat penting dalam Liturgi serta dalam semua Ibadah Ilahi, yang dirayakan di Gereja. Doa bersama umat beriman di gereja dipersembahkan dalam "ekteniyas" (Litani). Doa bersama menumbuhkan sentimen Kristen berupa kasih, iman, dan harapan.

Pendidikan Kristen merupakan hal yang paling penting. Pendidikan ini mengangkat pikiran dan hati menuju kehidupan Kristen sejati dan mengarahkan semua tindakan dan perbuatan seseorang ke jalan yang telah ditetapkan oleh Pendiri Kekristenan, Allah-Manusia Yesus Kristus dan para Rasul-Nya yang Kudus.

Karena itu, berpegang teguhlah pada Iman Apostolik Orthodoks, jadilah putra-putra sejati Gereja sebagaimana para leluhurmu sebelumnya, baik di sini maupun di tanah air mereka. Orthodoksi adalah kekayaan rohani kita, yang wajib kita kembangkan sambil bertumbuh dalam Iman dan Kasih kepada Yesus Kristus.

Uskup Agung Benjamin dari Pittsburgh, 1948.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGGEREJAAN IBU DAN ANAK SETELAH 40 HARI

Tradisi Koliva dalam Kekristenan Ortodoks

MENGAPA ORANG YANG MENINGGAL DIPERINGAT PADA HARI SABTU?