INFORMASI LEBIH LANJUT TENTANG PERTANYAAN RUMAH TOL (GERBANG KEMATIAN)

INFORMASI LEBIH LANJUT TENTANG PERTANYAAN RUMAH TOL (GERBANG KEMATIAN)

Archpriest John Whiteford


Ketika berbicara tentang mereka yang ingin menolak gagasan Gerbang Kematian/ rumah tol, atau bahkan menyebutnya gagasan ini sebagai sesat, saya sering kali terheran-heran, baik karena bukti yang mereka abaikan, maupun apa yang menurut mereka itu membuktikan kasus mereka. .

Izinkan saya mengatakan sebelumnya bahwa tidak ada seorang pun yang pernah saya temui yang mengambil gambaran rumah tol / gerbang kematian secara literalistik. Rumah tol/ gerbang kematian adalah cara yang dipakai untuk berbicara tentang realitas yang dibicarakan oleh para bapa gereja tentang Gerbang Kematian/ Rumah Tol dan ibadah yang berhubungan dengan kematian dengan berbagai cara. Namun, berbagai macam cara mereka membicarakannya, justru semuanya menunjuk pada realitas yang sama.

Salah satu artikel dari situs modernis "Public Orthodoxy" yang telah dirujuk oleh beberapa orang di beberapa minggu terakhir, adalah "Aerial Toll Houses, Provisional Judgment, and the Orthodox Faith: A Review of The Departure of the Soul According to the Teachings of the Orthodox Church," oleh Stephen J. Shoemaker. Dan artikel ini dikutip sebagai bukti bahwa rumah tol/ gerbang kematian bukanlah bagian utama dari Tradisi Gereja. Artikel ini diterbitkan pada tahun 2017, dan ditulis oleh seorang sarjana patristik yang bonafid. Sebenarnya, saya baru saja mendapat salinan salah satu bukunya beberapa minggu yang lalu, jadi saya yakin dia punya tingkat keakraban yang tinggi dengan tulisan para Bapa Gereja. Namun, setelah menyatakan bahwa rumah tol/ Gerbang kematian, menurut pendapatnya, tidak ditemukan dalam banyak dokumen milenium pertama Sejarah Gereja, ia mengakhiri ulasannya terhadap buku setebal 1.111 halaman, dengan komentar berikut:

"Dalam pertarungan antara malaikat dan iblis untuk memperebutkan jiwa yang baru saja meninggal, para biarawan telah mengakui adanya tradisi yang hidup yang sudah ada sejak zaman gereja kuno dan telah disaksikan oleh banyak pihak berwenang – berbeda dengan rumah tol di udara.(gerbang kematian di udara)"

Masalah dengan pernyataan ini adalah bahwa rumah tol di udara (gerbang kematian di udara) justru merupakan gambaran dari "pertarungan malaikat dan setan yang memperebutkan jiwa yang baru meninggal". Sejauh ini Dr. Shoemaker bukannya menyangkal rumah tol tersebut, namun dia justru menegaskannya.

Dia melanjutkan dengan menegaskan bahwa:

“Masalahnya, bagaimanapun, adalah bahwa ini bukan satu-satunya tradisi mengenai nasib jiwa, dan di sinilah letak fundamentalisme yang mengarahkan buku ini dan menghasilkan penafsiran yang salah terhadap iman Orthodoks. Ini adalah fundamentalisme yang bersikeras membaca sebagian dari tradisi tersebut, yang terisolasi dari kompleksitas keseluruhan tradisi, dengan cara yang paling harafiah, padahal mungkin diperlukan penafsiran kiasan yang lebih bernuansa dan lebih tepat. Misalnya saja, bagaimana seharusnya seseorang memahami tradisi tersebut, jika dibaca secara harafiah, dalam sudut pandang yang baik. tradisi doa untuk orang mati yang tidak menyebutkan rumah tol (gerbang kematian)? Tradisi Orthodoks jauh lebih luas dan beragam dibandingkan dengan penyajiannya dalam buku ini dengan mengorbankan perspektif alternatif yang diakui, buku ini pada dasarnya didasarkan pada kesalahan, mengaburkan dan memutarbalikkan, bukannya mengklarifikasi dan mengungkapkan, ajaran Gereja Orthodoks secara utuh."

Masalah yang dia katakan di sini adalah bahwa dia tidak menunjukkan sama sekali mengenai gagasan bahwa ada konflik antara malaikat dan setan dalam jiwa orang yang telah meninggal bertentangan dengan hal lain dalam Tradisi Gereja. Sekarang jika ada banyak Bapa Gereja yang bisa dikutip yang keberatan dengan gagasan ini, maka dia akan punya kasus, tapi dia tidak melakukannya.

Kita berbicara tentang sebuah realitas yang berada di luar pengalaman normal kita dalam kehidupan ini, dan oleh karena itu, seperti halnya dengan banyak persoalan spiritual dan theologis, kita harus membicarakannya dalam gambaran verbal. Gambaran verbal mengarahkan kita pada sebuah realitas, namun itu bukanlah realitas itu sendiri. Seringkali kita memiliki gambaran yang beragam. Misalnya, ketika kita berbicara tentang bagaimana Kristus menyelamatkan kita, kita mempunyai gambaran tentang “tebusan” yang keluar dari mulut Kristus sendiri (Matius 20:28). Ini adalah gambaran yang menyampaikan sebagian dari kenyataan. Ini bukan satu-satunya gambaran Alkitab, namun juga bukan gambaran yang bebas kita buang. Ini juga merupakan gambar, seperti kebanyakan gambar, yang dapat dipahami terlalu jauh. Jadi, seseorang dapat mengartikannya bahwa Kristus diberikan sebagai tebusan yang dibayarkan kepada iblis, namun seperti yang kita ketahui, St. Gregorius sang Theolog menanggapi gagasan tersebut dengan "tanggapan kemarahan!" (Orasi Kedua pada Paskah, 22). Setiap gambaran yang kita temukan dalam Kitab Suci memberi tahu kita sebagian dari keseluruhannya, dan kita harus menyatukan semuanya, dan tidak memaksakannya melampaui tujuan yang dimaksudkan.

Pertarungan antara malaikat dan setan atas jiwa orang yang telah meninggal ini adalah kenyataan, dan merupakan bagian dari apa yang kita sebut penghakiman khusus. Dalam wawancara baru-baru ini, George Demacopoulos, salah satu editor "Public Orthodoxy," menyatakan bahwa gerbang kematian/ rumah tol menolak bahwa kita akan dihakimi oleh Kristus (Pemimpin baru Gereja Orthodoks Yunani di Amerika (The Greek Current, 20 Mei 2019), pada menit ke-26:10). Ini tentu saja sama sekali tidak benar. Sebagai orang Kristen, kita semua tahu bahwa akan ada kebangkitan umum, dan bahwa beberapa orang akan dibangkitkan untuk hidup, dan yang lainnya untuk hukuman kekal, tetapi kita semua akan berdiri di hadapan penghakiman akhir. Namun, penghakiman khusus (atau sebagian), yang merupakan ajaran universal Gereja, adalah apa yang terjadi ketika kita meninggal, sebelum penghakiman terakhir itu. Kita akan menghabiskan waktu antara kematian kita dan penghakiman akhir itu di suatu tempat. Penghakiman khusus itulah yang menentukan di mana kita akan menghabiskan waktu itu, setidaknya pada awalnya, sebelum penghakiman akhir. Banyak orang akan menghabiskan waktu itu untuk merasakan siksaan terlebih dahulu, karena mereka mati dalam pemberontakan terhadap Allah, dan mereka akan menghabiskan waktu itu di Hades. Kita menemukan gambaran tentang salah satu orang tersebut dalam perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus:

"Dan di Hades [orang kaya itu] memandang ke atas, sementara ia menderita sengsara, dan dari jauh ia melihat Abraham dan Lazarus duduk di pangkuannya. Ia berseru, "Bapa Abraham, kasihanilah aku dan suruhlah Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat tersiksa dalam nyala api ini" (Lukas 16:23-24).

Nah, bagi mereka yang keberatan dengan gagasan bahwa jika kita meninggal tanpa pertobatan, setan akan menyeret kita ke Hades, dan melihatnya sebagai "mengerikan"... sesuatu yang "bertentangan dengan belas kasihan Allah," dsb. -- jika dibandingkan dengan gambaran Juruselamat Sendiri tentang nasib orang kaya itu, bagaimana kita sampai di sana menurut saya merupakan masalah yang agak kecil. Betapapun buruknya perjalanan itu, tujuannya adalah yang akan menjadi kerugian nyata dari keseluruhan kesepakatan itu.

Dan keberatan terhadap gagasan bahwa Allah mungkin menggunakan setan, iblis, atau orang jahat untuk menghakimi manusia, bertentangan dengan Kitab Suci, yang penuh dengan rujukan tentang hal itu. Seluruh kitab Habakuk, misalnya, adalah tentang pergumulan Nabi Habakuk dengan gagasan bahwa orang-orang Kerajaan Yehuda, meskipun berdosa dan memberontak, dihukum di tangan bangsa yang bahkan lebih jahat (orang Babilonia).

Baik George Demacopoulos dalam wawancara yang sama, maupun Romo Evan Armatas, dalam episode terbaru "Orthodoxy Live" (Ancient Faith Radio, 19 Mei 2019), merujuk pada upacara pemakaman, dan tidak adanya rujukan ke gerbang kematian/ rumah tol, sebagai bukti bahwa Gereja tidak mengajarkan hal semacam itu. Sebenarnya ada sindiran terhadap cobaan yang dialami jiwa setelah kematian dalam sticheron kedua dari Biarawan Yohanes, yang kita nyanyikan menjelang akhir upacara pemakaman:

 

"Aduh! Betapa menderitanya jiwa ketika harus berpisah dari tubuhnya; betapa banyak air mata mengalir karena menangis, tetapi tidak ada yang menunjukkan belas kasihan: ia berpaling kepada para malaikat dengan mata tertunduk; sia-sia saja permohonannya; dan ia mengulurkan tangannya memohon kepada manusia, tetapi tidak menemukan seorang pun yang dapat menyelamatkannya. Karena itu, saudara-saudaraku terkasih, marilah kita semua merenungkan dengan baik betapa singkatnya rentang hidup kita; dan semoga kedamaian kepada dia yang sekarang telah tiada, marilah kita mohon kepada Kristus, dan juga belas kasihan-Nya yang melimpah bagi jiwa kita" (Teks Pemakaman Keuskupan Agung Yunani Amerika Utara)

Dan di stichera setelah ciuman perpisahan terakhir untuk orang yang telah meninggal, (dalam stichera kedelapan) kita mengidung:

"Ketika jiwa hendak dibawa pergi dari tubuh dengan kekerasan oleh malaikat yang menakutkan, ia melupakan semua sanak saudara dan kenalan dan merasa gelisah karena harus berdiri di hadapan pengadilan yang akan datang, yang akan mengadili hal-hal yang sia-sia dan yang bekerja keras dalam kedagingan. Oleh karenanya kami mohon kepada Sang Hakim, marilah kita semua berdoa agar Allah mengampuninya atas hal-hal yang telah dia lakukan" (Ibadah Pemakaman untuk umat awam /The Office for the Burial of a Layman, vol 3, Buku Doa untuk Berbagai Keperluan / Book of Needs, (South Canaan, PA: St. Tikhon Seminary Press, 1999, hlm. 210). Kidung ini tidak ditemukan dalam teks online Keuskupan Agung Yunani, yang merupakan versi yang sangat disingkat dari ibadah Pemakaman).

Lebih jauh lagi, jika jiwa orang yang meninggal langsung berada dalam kebahagiaan kekal di surga, maka tidak ada alasan untuk semua doa dalam upacara pemakaman dan peringatan yang kita lakukan untuk orang yang meninggal, yang dengan jelas menunjukkan bahwa setidaknya sebagian besar jiwa membutuhkan doa-doa seperti itu.

Namun, kita memiliki lebih banyak ibadah daripada sekadar ibadah pemakaman, saat kita meninggal dunia. Ibadah pertama yang mungkin akan kita dengar, sebelum kematian kita, jika ada imam yang tersedia, atau jika kita ingin memanjatkan doa-doa ini sendiri, seperti yang telah dilakukan banyak orang kudus sebelum kita, adalah ibadah untuk kepergian jiwa. Ada dua versi ibadah ini dalam Buku Doa Untuk Berbagai Keperluan: salah satunya adalah "Kanon Permohonan kepada Tuhan kita Yesus Kristus dan Sang Theotokos Yang tersuci, Bunda Allah, pada saat Jiwa Terpisah dari Tubuh setiap orang Orthodoks;" dan yang lainnya adalah "Tata Cara pada saat Jiwa Terpisah dari Tubuh ketika seseorang telah Menderita untuk Waktu yang Lama," dalam Buku Doa Untuk Berbagai Keperluan yang dikaitkan kepada St. Andreas dari Kreta.

Dalam ibadah pertama ini, kita temukan, misalnya:

"Singa-singa yang mengaum secara rohani telah mengelilingiku, berusaha membawaku pergi dan menyiksaku dengan kejam. Remukkanlah gigi dan rahang mereka, ya Yang Maha Kudus, dan selamatkanlah aku" (Kanon Permohonan kepada Tuhan kita Yesus Kristus dan Sang Theotokos Yang tersuci, Bunda Allah, saat Jiwa Terpisah dari Tubuh setiap umat Orthodoks, vol 3, Buku Doa Untuk Berbagai Keperluan , (South Canaan, PA: St. Tikhon Seminary Press, 1999, hlm. 76).

"Anggaplah aku layak untuk lewat, tanpa dihalangi oleh penganiaya, pangeran udara, tiran, dan dia yang berjaga di jalan yang menakutkan, serta tuduhan palsu dari mereka ini, saat aku meninggalkan bumi" (Ibid., hlm. 77).

"Lihatlah, teror telah datang menemuiku, ya Ratu dan Ibu yang berdaulat, dan aku takut akan hal itu. Lihatlah, sebuah perjuangan besar menantiku, oleh karenanya jadilah bagiku seorang penolong, Ya Harapan keselamatanku" (Ibid., hlm. 77).

"Pindahkanlah aku, ya Bunda Maria, ke dalam pelukan suci dan berharga para Malaikat suci, yang terlindungi oleh sayap mereka, sehingga aku tidak melihat bentuk iblis yang jahat, busuk, dan gelap" (Ibid., hlm. 79).

"Anggaplah aku layak untuk lolos dari gerombolan orang-orang barbar yang tak berwujud, dan bangkit melalui kedalaman udara dan dianggap layak masuk ke Surga, sehingga aku dapat memuliakanmu sepanjang segala abad, ya Theotokos suci " (Ibid., hlm. 81).

Dalam ibadah kedua, kita temukan:

"Lihatlah, banyak roh jahat berdiri di sekelilingku, memegang catatan atas dosa-dosaku, dan mereka berteriak dengan sangat keras, tanpa malu-malu mencoba merebut jiwaku yang hina" (The Order at the Parting of the Soul from the Body when one has Suffered for a Long Time, vol 3, Book of Needs, (South Canaan, PA: St. Tikhon Seminary Press, 1999, hlm. 87).

Kasihanilah aku, wahai semua malaikat kudus Allah Yang Mahakuasa, kasihanilah aku dan selamatkanlah aku dari semua pemungut tol (penjaga gerbang kematian) yang jahat [yang seharusnya diterjemahkan sebagai "rumah tol," telonion poneron, dalam teks Yunani], karena aku tidak memiliki perbuatan baik untuk mengimbangi perbuatan jahatku" (Ibid., hlm. 90).

Doa-doa ini secara harfiah merupakan perintah terakhir yang diberikan kepada mereka yang akan meninggalkan kehidupan ini, tetapi ini bukanlah satu-satunya doa dalam tradisi liturgi Gereja. Misalnya, pada Sembahyang Singsing Fajar Sabtu Selamat Tinggal Keju/ Cheesefare, kita mendengar kidung: "Kami senantiasa bersyukur dan mengagungkanmu, ya Sang Theotokos yang murni; kami memuliakan dan memuji kelahiran anakmu, ya yang penuh rahmat, dan kami berseru kepadamu tanpa henti: Selamatkan kami, ya Perawan yang pengasih, dalam kasihmu; bebaskan kami dari pemeriksaan yang menakutkan yang harus kami jalani di hadapan setan, dan pada saat pemeriksaan kami jangan biarkan hamba-hambamu dipermalukan" (The Lenten Triodion: Supplementary Texts, trans. Mother Maria and Bishop Kallistos Ware (South Canaan: St. Tikhon Seminary Press, 2007, p. 58).

Dalam doa kepada Sang Theotokos di akhir Sembahyang Senja Singkat, kita memohon setiap hari agar dia " agar memelihara jiwaku yang malang pada saat kematianku, dan mengusir jauh darinya wajah-wajah gelap setan-setan jahat" (The Great Horologion (Brookline, MA: Holy Transfiguration Monastery, hlm. 1997, hlm. 230).

Pada Ibadat Sabtu Tengah Malam, dalam doa St. Eustratius, kita berdoa:

"Dan sekarang, ya Baginda, biarlah tangan-Mu melindungiku dan biarlah belas kasihan-Mu turun atasku, karena jiwaku gelisah dan sangat tertekan saat meninggalkan tubuhku yang malang dan najis ini, jangan sampai rencana jahat si musuh datang dan menghalanginya karena dosa-dosa yang telah kulakukan dalam hidup ini, baik yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui. Kasihanilah aku, ya Baginda, dan jangan biarkan jiwaku melihat wajah suram dan gelap setan-setan jahat, tetapi biarlah Malaikat-malaikat-Mu yang bersinar dan bercahaya menerimanya. Biarlah kemuliaan bagi Nama-Mu yang kudus, dan dengan kuasa-Mu bawalah aku ke pengadilan ilahi-Mu. Ketika aku akan diadili, jangan biarkan tangan penguasa dunia ini mencengkeramku, sehingga ia dapat menyeretku, orang berdosa ini ke jurang neraka; tetapi berdirilah di sampingku, dan jadilah Juruselamat dan Penolongku" (The Great Horologion (Brookline, MA: Holy Transfiguration Monastery, hlm. 1997, hlm. 48).

 

Banyak sekali contoh yang dapat dikutip di sini.

Kita juga dapat menemukan banyak contoh tafsiran tentang Kitab Suci oleh para Bapa Gereja, yang menyinggung realitas yang sama ini.

Misalnya, dalam Lukas 12:20, dalam perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh, sebagian besar terjemahan berbunyi, seperti Versi King James:

"Tetapi Allah berfirman kepadanya, Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil darimu. Lalu, untuk siapakah semua yang telah kau sediakan itu?"

Namun, catatan pinggir Versi King James, dengan tepat mencatat: " (Dalam Bahasa Yunani /Gr[eek]), mereka akan menuntut jiwamu?"

Terjemahan Literal Young mencatat fakta ini dalam terjemahannya:

"Dan Allah berfirman kepadanya, Hai orang yang tidak berpikir! Pada malam ini juga jiwamu akan mereka tuntut darimu, dan apa saja yang telah kau persiapkan -- untuk siapakah semuanya itu?"

Dalam tafsiran Beato Theophylact (yang merupakan standar emas dalam hal tafsiran di Gereja Orthodoks), ia mengemukakan pendapat tentang kata kerja yang diterjemahkan oleh KJV dalam bentuk pasif sebagai "harus dituntut", tetapi ia menunjukkan bahwa kata itu dalam bentuk aktif, masa depan, orang ketiga, jamak -- dan karenanya seharusnya menjadi "mereka akan menuntut".

Beato Theophylact berkata:

"Perhatikan juga kata-kata "mereka akan menuntut". Seperti beberapa pejabat kekaisaran yang keras menuntut upeti, para malaikat yang menakutkan akan meminta jiwamu, dan engkau tidak akan mau memberikannya karena engkau mencintai kehidupan ini dan mengklaim hal-hal dalam kehidupan ini sebagai milikmu sendiri. Namun, mereka tidak menuntut jiwa orang benar, karena ia sendiri menyerahkan jiwanya ke dalam tangan Allah dan Bapa segala roh, dan ia melakukannya dengan sukacita dan kegembiraan, sama sekali tidak bersedih karena ia menyerahkan jiwanya kepada Allah. Baginya tubuh hanyalah beban ringan, yang mudah dilepaskan. Namun, orang berdosa telah membuat jiwanya berdaging, sesuatu yang sulit dipisahkan dari tubuh. Inilah sebabnya mengapa jiwa harus dituntut darinya, sama seperti pemungut pajak yang keras memperlakukan debitur yang menolak membayar apa yang menjadi haknya. Lihatlah bahwa Tuhan tidak berkata, "Aku akan menuntut jiwamu," tetapi, "mereka akan menuntut"" (Penjelasan Injil Suci Menurut Lukas. Romo Christopher Stade, Trans. (House Springs, MO: Chrysostom) Pers, 1997), hal. 148).

Salah satu teks Kristen tertua yang kita miliki adalah "Dialog dengan Trypho" karya St. Justinus Martir, dan di dalamnya, ia berkata:

“Dan apa yang mengikuti Mazmur, -- 'Tetapi Engkau, Tuhan, janganlah singkirkan pertolongan-Mu dari padaku; perhatikanlah aku dan tolonglah aku. Lepaskanlah jiwaku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing; selamatkanlah aku dari mulut singa, dan dari tanduk banteng Engkau telah menjawab aku,'—juga merupakan informasi dan nubuat tentang peristiwa-peristiwa yang akan menimpa-Nya. Karena saya telah membuktikan bahwa Dia adalah anak tunggal dari Bapa segala sesuatu, yang dilahirkan dengan cara yang khusus melalui Firman dan Kuasa oleh-Nya, dan setelah itu menjadi manusia melalui Perawan, seperti yang telah kita pelajari dari riwayat-riwayat. Selain itu, dinubuatkan dengan cara yang sama bahwa Dia akan mati dengan penyaliban. Untuk bagian, Lepaskanlah jiwaku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing; "Selamatkanlah aku dari mulut singa, dan kerendahan hatiku dari tanduk banteng," merupakan petunjuk penderitaan yang akan Ia tanggung saat Ia mati, yaitu melalui penyaliban. Sebab, "tanduk banteng," yang telah saya jelaskan kepadamu, hanyalah gambaran salib. Dan doa agar jiwa-Nya diselamatkan dari pedang, mulut singa, dan tangan anjing, merupakan doa agar tidak seorang pun boleh mengambil alih jiwa-Nya: sehingga, ketika kita tiba di akhir kehidupan, kita dapat meminta permohonan yang sama dari Allah, yang mampu mencegah setiap malaikat jahat yang tidak tahu malu untuk mengambil jiwa kita" (Dialog dengan Trypho, bab 105, ANF 1, hlm. 251f).

Santo Basilius Agung mengatakan hal ini, dalam homilinya tentang Mazmur 7:

"Karena itu, ketika berada di bawah hukuman mati, mengetahui bahwa ada Dia yang menyelamatkan dan Dia yang membebaskan, 'Pada-Mu aku menaruh kepercayaanku,' ia berkata, 'selamatkan aku' dari 'kelemahan' dan 'bebaskan aku' dari penahanan. Saya pikir para atlet Allah yang mulia, yang telah bergulat dengan musuh-musuh yang tidak terlihat di seluruh hidup mereka, setelah mereka lolos dari semua penganiayaan dan mencapai akhir hidupnya, mereka diperiksa oleh penguasa dunia, agar, jika mereka ditemukan memiliki luka-luka dari pergulatan atau noda atau akibat dosa, mereka dapat ditahan; tetapi, jika mereka ditemukan tidak terluka dan tidak bernoda, mereka dapat dibawa oleh Kristus ke tempat peristirahatan mereka sebagai orang yang tidak terkalahkan dan bebas. Karena itu ia berdoa untuk hidupnya di sini dan untuk kehidupan masa depannya. Karena ia berkata: 'Selamatkan aku' di sini 'dari mereka yang menganiaya aku; bebaskan aku' di sana pada saat pemeriksaan 'jangan sampai sewaktu-waktu ia mencengkeram jiwaku seperti singa.' Engkau dapat mempelajari hal ini dari Tuhan Sendiri yang berkata mengenai saat sengsara-Nya: 'Sekarang penguasa dunia ini datang dan di dalam Aku ia tidak akan memperoleh apa-apa' [Yohanes 14:30]. Ia yang tidak berbuat dosa berkata bahwa ia tidak memperoleh apa-apa; tetapi bagi manusia itu sudah cukup, jika ia berani berkata: 'Penguasa dunia ini datang dan di dalam Aku ia akan memperoleh hukuman yang sedikit dan remeh.' Dan ada bahaya mengalami hukuman-hukuman ini, kecuali kita memiliki seseorang untuk membebaskan kita atau menyelamatkan kita. Sebab, kedua kesengsaraan yang diuraikan, dua permohonan diajukan. 'Selamatkanlah aku dari banyaknya orang yang menganiaya aku, dan bebaskanlah aku, supaya jangan suatu saat aku ditangkap seolah-olah tidak ada seorang pun yang menebus aku" [Mazmur 7:2-3] (The Fathers of the Church, vol. 46: St. Basil, Exegetical Homilies, trans. Sister Agnes Clare Way, C.D.P (Washington, D.C.: Catholic University of America Press, 1963), hlm. 167f).

 

Dan masih banyak lagi kutipan semacam ini yang ditemukan di seluruh tulisan Bapa Gereja. Tidak dapat disangkal bahwa memang demikian, itulah sebabnya hanya sedikit dari mereka yang ingin mengabaikan ajaran Gereja ini yang berani menggunakan bukti.

Bagi mereka yang ingin melihat lebih banyak bukti yang dipaparkan, teks "Kepergian Jiwa Menurut Ajaran Gereja Orthodoks" menyediakannya. Engkau juga dapat melihat Bukti Tradisi Rumah Tol/ Gerbang Kematian yang ditemukan dalam Tradisi Gereja yang Diterima Secara Universal secara online, untuk sedikit bukti tersebut.

Tidak ada yang bersifat Gnostik tentang hal ini. Untuk menghindari terseret ke Hades, tidak ada kata sandi rahasia, jabat tangan, atau mantra yang akan menyelamatkanmu. Engkau hanya perlu berdoa untuk "akhir yang Kristiani," dan berusaha, dengan kasih karunia Allah, untuk mempersiapkan akhir seperti itu. Akhir yang Kristiani adalah akhir yang di dalamnya seseorang meninggal, dengan hati nurani yang bersih, dan dengan iman serta pertobatan kepada Allah. Jika engkau meninggal dengan cara seperti itu, engkau tidak perlu khawatir.

Fr. John Whiteford's Commentary and Reflections

Archpriest John Whiteford

5/25/2019

https://fatherjohn.blogspot.com/2019/05/more-on-question-of-toll-houses.html


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGGEREJAAN IBU DAN ANAK SETELAH 40 HARI

Tradisi Koliva dalam Kekristenan Ortodoks

MENGAPA ORANG YANG MENINGGAL DIPERINGAT PADA HARI SABTU?